KONSULTASI
Logo

Harga CPO Bursa Malaysia Menguat, Ditopang Ringgit Melemah dan Optimisme Permintaan

17 Juli 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Harga CPO Bursa Malaysia Menguat, Ditopang Ringgit Melemah dan Optimisme Permintaan

sawitsetara.co - JAKARTA – Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) kembali ditutup menguat pada perdagangan Selasa, 14 Juli 2026. Pelemahan nilai tukar ringgit terhadap dolar Amerika Serikat, kenaikan harga minyak mentah dunia, serta membaiknya kinerja ekspor minyak sawit Malaysia menjadi faktor utama yang menopang penguatan tersebut.

Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives, kontrak CPO pengiriman Juli 2026 naik 43 Ringgit Malaysia menjadi 4.515 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Agustus 2026 menguat 36 Ringgit Malaysia menjadi 4.529 Ringgit Malaysia per ton.

Penguatan juga terjadi pada kontrak September 2026 yang naik 40 Ringgit Malaysia menjadi 4.573 Ringgit Malaysia per ton. Sementara kontrak Oktober 2026 meningkat 42 Ringgit Malaysia menjadi 4.608 Ringgit Malaysia per ton.

Adapun kontrak November 2026 bertambah 40 Ringgit Malaysia menjadi 4.641 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Desember 2026 juga ditutup lebih tinggi 38 Ringgit Malaysia menjadi 4.671 Ringgit Malaysia per ton.

Apj

Mengutip TradingView, kenaikan harga CPO mendapat dukungan dari lonjakan harga minyak mentah dunia. Pasar merespons meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz di tengah memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.

Dari sisi perdagangan, ekspor minyak sawit Malaysia turut memberikan sentimen positif. Data perusahaan survei kargo menunjukkan pengiriman CPO sepanjang 1–10 Juli 2026 meningkat sekitar 1,6 hingga 5,1 persen dibandingkan periode yang sama pada bulan sebelumnya. Kenaikan ekspor tersebut memperkuat optimisme pelaku pasar terhadap prospek permintaan dalam jangka pendek.

Di Indonesia, prospek konsumsi domestik juga dinilai tetap kuat. Implementasi mandatori biodiesel B50 diperkirakan akan meningkatkan serapan minyak sawit di dalam negeri sehingga memberikan tambahan penopang terhadap permintaan CPO.

Meski demikian, ruang penguatan harga masih dibayangi sejumlah faktor yang berpotensi menekan pasar.

Uni Eropa, misalnya, telah mengumumkan bahwa impor produk turunan minyak sawit akan mulai tunduk pada ketentuan European Union Deforestation Regulation (EUDR) mulai Desember 2027. Kebijakan tersebut diperkirakan menjadi tantangan baru bagi eksportir minyak sawit.

Apj

Dari sisi pasokan, stok minyak sawit Malaysia pada Juni 2026 tercatat meningkat 4,8 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan persediaan terjadi seiring produksi yang naik 8,1 persen akibat faktor musiman.

Sementara itu, permintaan dari India juga menunjukkan pelemahan. Data perdagangan memperlihatkan impor minyak sawit India pada Juni 2026 turun ke level terendah dalam 14 bulan. Penurunan dipicu melemahnya permintaan domestik serta semakin tipisnya selisih harga minyak sawit dengan minyak nabati pesaing.

Pelaku pasar juga masih mengambil sikap hati-hati menjelang rilis data produk domestik bruto (PDB) China kuartal II-2026. Meskipun data perdagangan Negeri Tirai Bambu pada Juni menunjukkan hasil yang relatif solid, investor masih menunggu kepastian mengenai prospek pertumbuhan ekonomi China sebagai salah satu importir minyak sawit terbesar dunia.

Tags:

CPO

Berita Sebelumnya
Ekspor Sawit Masih Mendominasi, Sumbang Hampir 57 Persen Ekspor Nonmigas Riau

Ekspor Sawit Masih Mendominasi, Sumbang Hampir 57 Persen Ekspor Nonmigas Riau

Produk kelapa sawit masih menjadi penopang utama kinerja ekspor Provinsi Riau sepanjang Januari-Mei 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat ekspor kelompok lemak dan minyak hewan atau nabati, yang didominasi produk sawit, mencapai US$ 4,69 miliar atau meningkat 13,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

16 Juli 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *