KONSULTASI
Logo

Embun Jelaga dan Kumbang Tanduk Intai Kebun Sawit, Pengendalian Terpadu Jadi Kunci

11 Februari 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
Embun Jelaga dan Kumbang Tanduk Intai Kebun Sawit, Pengendalian Terpadu Jadi Kunci
HOT NEWS

sawitsetara.co - JAKARTA — Ancaman organisme pengganggu tumbuhan (OPT) masih menjadi pekerjaan rumah dalam menjaga produktivitas kelapa sawit. Serangan penyakit dan hama dapat terjadi sejak fase tanaman muda hingga memasuki masa produksi.

Salah satu penyakit yang kerap muncul adalah embun jelaga akibat cendawan Capnodium sp. Penyakit ini ditandai perubahan warna daun menjadi kehitaman. Cendawan tumbuh di atas cairan manis (honeydew) yang dihasilkan serangga penghisap seperti kutu daun, dan umumnya menyerang permukaan bawah daun.

Lapisan hitam tersebut menghambat proses fotosintesis karena daun tidak optimal menyerap cahaya matahari. Dampaknya, kualitas buah berpotensi menurun. Serangan dapat terjadi pada tanaman berusia 1–3 tahun hingga tanaman tua, terutama pada kebun yang lembap, banyak tumpukan pelepah, dan pemupukan yang tidak tepat.

Pengendalian dilakukan melalui sanitasi lahan, pemangkasan (pruning), pengaturan jarak tanam, serta pemupukan dan pengairan yang tepat. Pengendalian hayati juga dapat diterapkan dengan aplikasi Trichoderma sp. Pada tanaman terdampak.

Sawit Setara Default Ad Banner

Selain penyakit, hama kumbang tanduk atau kumbang nyiur (Oryctes rhinoceros) menjadi ancaman serius. Hama ini menyerang pucuk dan daun muda, ditandai dengan daun sobek membentuk pola seperti kipas.

Pencegahan dapat dilakukan dengan tidak membersihkan seluruh gulma atau vegetasi tertentu di batang sawit. Gulma tersebut berfungsi sebagai pengalih makan sebelum kumbang menyerang daun utama. Meski demikian, sanitasi kebun tetap penting, termasuk pembersihan batang dan pelepah yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak hama.

Pengendalian fisik dapat dilakukan dengan memasang perangkap feromon (feromon trap) untuk menangkap kumbang dewasa dan menekan populasi.

Upaya pengendalian OPT secara terpadu dinilai penting untuk menjaga stabilitas produksi dan kualitas CPO di Penajam Paser Utara. Pemantauan rutin sejak fase pembibitan, tanaman belum menghasilkan, hingga tanaman menghasilkan menjadi langkah krusial agar produktivitas sawit tetap terjaga di tengah meningkatnya kebutuhan pasar.

Tags:

Berita Sawit

Berita Sebelumnya
Ditjenbun Tekankan Peran Pekebun dalam Penerapan ISPO Permentan 33/2025

Ditjenbun Tekankan Peran Pekebun dalam Penerapan ISPO Permentan 33/2025

Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian menegaskan pentingnya keterlibatan aktif pekebun dalam penerapan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 33 Tahun 2025.

10 Februari 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *