
sawitsetara.co - BOGOR — Perdebatan global mengenai keberlanjutan kelapa sawit dinilai masih disederhanakan dalam dikotomi antara efisiensi ekonomi dan dampak lingkungan. Dalam praktiknya, penilaian tersebut kerap bertumpu pada kerangka akuntansi karbon yang belum sepenuhnya mencerminkan kinerja produksi serta potensi mitigasi emisi yang nyata di lapangan.
Pandangan ini disampaikan oleh Pengajar Program Studi Meteorologi Terapan IPB University, Idung Risdiyanto, melalui telaah kritis terhadap artikel Alcock et al. (2022) berjudul More sustainable vegetable oil: balancing productivity with carbon storage opportunities yang dimuat di jurnal Science of the Total Environment.
Artikel tersebut membandingkan berbagai minyak nabati dunia menggunakan pendekatan life cycle assessment. Menurut Idung, sejak awal artikel Alcock dkk disusun dalam kerangka yang menempatkan sawit pada posisi defensif, terutama melalui asumsi ekspansi di lanskap tropis dengan stok karbon tinggi.
“Kerangka ini membuat keunggulan produktivitas sawit tidak dibaca sebagai kekuatan sistem produksi, tetapi langsung diasosiasikan dengan potensi kehilangan karbon akibat konversi lahan,” ujarnya.
Padahal, dalam temuan ilmiah yang disajikan, Alcock dkk secara tegas mengakui bahwa kelapa sawit merupakan tanaman penghasil minyak paling produktif di dunia. Dengan hasil empat hingga sepuluh kali lebih tinggi per hektar dibandingkan rapeseed, sunflower, dan kedelai, sawit membutuhkan lahan jauh lebih kecil untuk menghasilkan volume minyak yang sama.
Dalam kerangka biofisik global, keunggulan ini berarti potensi besar untuk menekan ekspansi lahan dan mengurangi tekanan konversi ekosistem di wilayah lain. Selain itu, artikel tersebut juga menunjukkan bahwa intensitas emisi gas rumah kaca sawit tidak bersifat bawaan. Ketika faktor perubahan penggunaan lahan dikeluarkan dari perhitungan, emisi sawit berada pada kisaran yang sebanding, bahkan dalam beberapa kasus lebih rendah, dibandingkan minyak nabati lain.
Idung menilai temuan tersebut memperjelas bahwa persoalan utama sawit terletak pada sejarah dan lokasi ekspansinya, bukan pada sistem tanamannya. “Sawit bukan sumber emisi tinggi secara otomatis. Ia menjadi bermasalah dalam konteks perubahan penggunaan lahan, bukan karena karakter biologisnya,” katanya.
Artikel Alcock dkk juga menyoroti besarnya peluang penurunan emisi sawit melalui intervensi teknis yang konkret, terutama penangkapan metana dari limbah cair pabrik kelapa sawit (POME). Variasi emisi yang tinggi antar produsen disebut mencerminkan masih terbukanya ruang perbaikan teknologi dan praktik produksi.
Namun demikian, temuan-temuan tersebut kemudian dibingkai ulang melalui konsep carbon storage opportunity cost, yakni perhitungan karbon yang diasumsikan dapat disimpan apabila lahan pertanian direstorasi menjadi ekosistem alami.
Dalam pendekatan ini, karbon yang dinilai bukan karbon yang benar-benar diserap atau dilepaskan dalam sistem produksi nyata, melainkan karbon yang hadir sebagai peluang hipotetis.
Idung menilai pendekatan tersebut problematik dalam konteks mitigasi iklim yang berfokus pada penurunan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer secara aktual.
“Jika kerangka ini dilembagakan melalui kebijakan seperti EUDR dan standar ESG global, sawit berisiko dihukum atas klaim karbon yang belum tentu terwujud, sementara jejak konversi lahan historis di wilayah lain justru terabaikan,” ujarnya.
Menurutnya, menyingkirkan sawit dari sistem pangan dan energi global bukanlah kemenangan iklim, melainkan kegagalan membedakan antara pengurangan emisi yang nyata dan akuntansi karbon yang nyaman secara politis.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *