
sawitsetara.co - SIAK — Hamparan lahan di Kampung Sialang Sakti, Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, tampak berbeda dari kebun sawit pada umumnya. Di sela-sela tanaman sawit muda hasil program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), tumbuh padi gogo yang menguning.
Gapoktan Manunggal Sakti, yang menaungi puluhan petani di wilayah itu, menjadi pelopor praktik tumpang sari antara sawit dan padi. Ketua Gapoktan Manunggal Sakti, Budi Santoso, mengakui langkah tersebut lahir dari kebutuhan mendesak: menjaga pendapatan petani selama masa belum menghasilkan dari tanaman sawit yang diremajakan.

“Biasanya kami hanya mengurus sawit. Tapi karena sawit butuh waktu sebelum berbuah, kami mencoba menanam padi untuk menopang kebutuhan ekonomi,” ujarnya kepada sawitsetara.co.

Program PSR sendiri mulai dijalankan Gapoktan ini sejak 2019, tak lama setelah organisasi terbentuk pada 2018. Latar belakangnya sederhana tapi krusial: sebagian besar kebun anggota sudah memasuki usia tidak produktif, bahkan mencapai lebih dari tiga dekade sejak ditanam pada awal 1980-an.

Dalam skema PSR, kebun-kebun tua itu ditebang dan ditanam ulang menggunakan bibit unggul. Namun, ada konsekuensi yang harus ditanggung petani: masa tunggu tanpa hasil selama beberapa tahun. Di titik inilah padi gogo hadir sebagai solusi.
Pada tahap ketiga PSR, yang mencakup 130 hektare dengan 60 petani, Gapoktan Manunggal Sakti mulai menerapkan sistem tumpang sari. Padi ditanam di antara barisan sawit muda yang belum rimbun, memanfaatkan ruang terbuka yang masih tersedia.

Budi menyebutkan, selain membantu ekonomi, langkah ini juga selaras dengan program pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. “Ini tantangan sekaligus peluang. Kami petani sawit belajar jadi petani pangan,” katanya.
Di lapangan, pengelolaan dilakukan secara kolektif. Sekitar 17 petani pemilik lahan bersama empat penanggung jawab mengelola area padi tersebut. Sistem kerja yang diterapkan memungkinkan petani tetap mendapatkan penghasilan karena mereka dibayar untuk mengelola lahan sendiri.

Menurut Budi, pendekatan ini cukup efektif menjaga stabilitas ekonomi petani. “Selama belum ada produksi sawit, padi bisa jadi penopang. Yang penting dikelola serius,” ujarnya.
Lebih jauh, praktik ini juga memperlihatkan perubahan pola pikir petani. Jika sebelumnya mereka bergantung pada satu komoditas, kini mulai terbuka pada diversifikasi usaha.
Di tengah dinamika sektor perkebunan yang kerap diwarnai fluktuasi harga dan isu lingkungan, langkah kecil dari Sialang Sakti ini menjadi refleksi: bahwa adaptasi di tingkat petani bisa menjadi kunci ketahanan. Bagi Gapoktan Manunggal Sakti, padi gogo bukan sekadar tanaman sela. Ia adalah simbol transisi—dari kebun sawit tua menuju sistem pertanian yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap dan mendalam terkait Gapoktan Manunggal Sakti simak video podcast Sawit TALK dengan klik tautan berikut:
SAWIT TALK- KEBERHASILAN PADI GOGO GAPOKTAN MANUNGGAL SAKTI, MENDUKUNG PROGRAM SWASEMBADA PANGAN RI
Tags:



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *