
sawitsetara.co - PEKANBARU — Kenaikan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Riau yang menembus Rp4.047 per kilogram untuk usia tanaman 10–20 tahun belum sepenuhnya mengangkat kesejahteraan petani. Lonjakan biaya pupuk justru menjadi tekanan baru yang menggerus margin keuntungan di tingkat kebun.
Sekretaris DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Provinsi Riau, Dr. (cn) Djono A. Burhan, S.Kom, MMgt (Int. Bus), CC, CL.mengatakan harga tinggi saat ini memang memberi harapan. Namun realitas di lapangan menunjukkan petani tidak menikmati angka tersebut secara utuh.
“Memang saat ini harga sawit sudah tembus Rp4.047 per kilogram, ini tentu menjadi berkah. Namun di tingkat petani, harga yang diterima hanya sekitar Rp3.000 sampai Rp3.200 per kilogram,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (15/4/2026).

Selisih harga itu, menurut Djono, menjadi semakin terasa ketika biaya produksi ikut merangkak naik. Ia menyoroti pola yang berulang: harga pupuk ikut melonjak saat harga sawit naik, tetapi tidak turun ketika harga sawit melemah.
“Ketika harga sawit naik, harga pupuk juga ikut naik. Sementara saat harga sawit turun, pupuk tidak ikut turun,” ungkapnya.
Kondisi ini mendorong sebagian petani mengambil langkah kompromi dengan mengurangi dosis pemupukan. Pilihan tersebut, kata dia, berisiko menekan produktivitas dalam jangka menengah.
“Harga pupuk yang tinggi mengurangi motivasi petani untuk membeli pupuk. Padahal itu sangat penting untuk menjaga produksi,” jelas Djono.

Ia menjelaskan, kenaikan harga pupuk sebagian dipengaruhi ketergantungan pada bahan baku impor, terutama untuk jenis kalium klorida (KCL) dan fosfat. Namun Djono mempertanyakan lonjakan harga urea yang diproduksi di dalam negeri.
“Yang menjadi pertanyaan kami, pupuk urea berasal dari dalam negeri, kenapa ikut naik padahal tidak impor,” katanya.
Di tengah tekanan biaya, petani juga menghadapi fase produksi yang belum sepenuhnya pulih. Saat ini kebun sawit memasuki musim trek, meski dampaknya disebut tidak terlalu dalam. Perbaikan cuaca dalam beberapa waktu terakhir diharapkan dapat membantu pemulihan produksi.
“Kami bersyukur curah hujan cukup tinggi saat ini, sehingga bisa mengurangi titik panas dan diharapkan produktivitas sawit kembali meningkat,” tambahnya.
Djono berharap tren harga TBS yang sedang menguat dapat benar-benar dirasakan petani, terutama jika diiringi kebijakan yang mampu menahan laju biaya produksi. Tanpa intervensi tersebut, kenaikan harga dinilai hanya akan menjadi angka di atas kertas bagi sebagian besar pekebun.



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *