KONSULTASI
Logo

Harga TBS Riau Tembus Rp4.047, Tapi Petani Sawit Terjepit Biaya Pupuk

18 April 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
Harga TBS Riau Tembus Rp4.047, Tapi Petani Sawit Terjepit Biaya Pupuk

sawitsetara.co - PEKANBARU — Kenaikan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Riau yang menembus Rp4.047 per kilogram untuk usia tanaman 10–20 tahun belum sepenuhnya mengangkat kesejahteraan petani. Lonjakan biaya pupuk justru menjadi tekanan baru yang menggerus margin keuntungan di tingkat kebun.

Sekretaris DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Provinsi Riau, Dr. (cn) Djono A. Burhan, S.Kom, MMgt (Int. Bus), CC, CL.mengatakan harga tinggi saat ini memang memberi harapan. Namun realitas di lapangan menunjukkan petani tidak menikmati angka tersebut secara utuh.

“Memang saat ini harga sawit sudah tembus Rp4.047 per kilogram, ini tentu menjadi berkah. Namun di tingkat petani, harga yang diterima hanya sekitar Rp3.000 sampai Rp3.200 per kilogram,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (15/4/2026).

Sawit Setara Default Ad Banner

Selisih harga itu, menurut Djono, menjadi semakin terasa ketika biaya produksi ikut merangkak naik. Ia menyoroti pola yang berulang: harga pupuk ikut melonjak saat harga sawit naik, tetapi tidak turun ketika harga sawit melemah.

“Ketika harga sawit naik, harga pupuk juga ikut naik. Sementara saat harga sawit turun, pupuk tidak ikut turun,” ungkapnya.

Kondisi ini mendorong sebagian petani mengambil langkah kompromi dengan mengurangi dosis pemupukan. Pilihan tersebut, kata dia, berisiko menekan produktivitas dalam jangka menengah.

“Harga pupuk yang tinggi mengurangi motivasi petani untuk membeli pupuk. Padahal itu sangat penting untuk menjaga produksi,” jelas Djono.

Sawit Setara Default Ad Banner

Ia menjelaskan, kenaikan harga pupuk sebagian dipengaruhi ketergantungan pada bahan baku impor, terutama untuk jenis kalium klorida (KCL) dan fosfat. Namun Djono mempertanyakan lonjakan harga urea yang diproduksi di dalam negeri.

“Yang menjadi pertanyaan kami, pupuk urea berasal dari dalam negeri, kenapa ikut naik padahal tidak impor,” katanya.

Di tengah tekanan biaya, petani juga menghadapi fase produksi yang belum sepenuhnya pulih. Saat ini kebun sawit memasuki musim trek, meski dampaknya disebut tidak terlalu dalam. Perbaikan cuaca dalam beberapa waktu terakhir diharapkan dapat membantu pemulihan produksi.

“Kami bersyukur curah hujan cukup tinggi saat ini, sehingga bisa mengurangi titik panas dan diharapkan produktivitas sawit kembali meningkat,” tambahnya.


Djono berharap tren harga TBS yang sedang menguat dapat benar-benar dirasakan petani, terutama jika diiringi kebijakan yang mampu menahan laju biaya produksi. Tanpa intervensi tersebut, kenaikan harga dinilai hanya akan menjadi angka di atas kertas bagi sebagian besar pekebun.


Berita Sebelumnya
B50 Bukan Pemicu Kenaikan Harga Minyak Goreng

B50 Bukan Pemicu Kenaikan Harga Minyak Goreng

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa program biodiesel B50 (50% berbahan baku dari kelapa sawit) bukanlah penyebab kenaikan harga maupun kelangkaan minyak goreng. Jadi pengalihan sebagian crude palm oil (CPO) untuk kebutuhan energi tidak mengurangi ketersediaan bahan baku minyak goreng di dalam negeri.

17 April 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *