KONSULTASI
Logo

Harga TBS Sawit Babel Disorot: Petani Pertanyakan Selisih Bangka–Belitung hingga Rp800/Kg

14 April 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
Harga TBS Sawit Babel Disorot: Petani Pertanyakan Selisih Bangka–Belitung hingga Rp800/Kg

sawitsetara.co - PANGKALPINANG — Perbedaan harga pembelian tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) kembali menjadi sorotan. Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) menilai ketimpangan harga tersebut merugikan petani, khususnya petani swadaya.

Isu ini mencuat dalam rapat penetapan harga TBS yang digelar di kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Babel pada Rabu (8/4/2026) lalu. Sejumlah perwakilan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) APKASINDO dari berbagai wilayah Babel menyampaikan keberatan mereka.

Sawit Setara Default Ad Banner

Perwakilan DPD APKASINDO Belitung, Masdar, mengungkapkan bahwa harga TBS di wilayahnya relatif mengikuti ketetapan pemerintah provinsi, bahkan ada perusahaan yang membeli dengan harga lebih tinggi.

Namun, kondisi tersebut berbeda dengan yang terjadi di Pulau Bangka. Masdar mengakui adanya selisih harga yang cukup signifikan antarwilayah.

“Selisihnya lumayan jauh, mulai dari Rp400 hingga Rp800. Harapan kita, kalau bisa diseragamkan. Jangan ada pembedaan. Karena kita satu provinsi. Pergubnya sama, aturannya sama,” katanya.

Senada, perwakilan DPD APKASINDO Bangka, Ismail, mempertanyakan logika penetapan harga yang dinilai tidak sejalan dengan kenaikan harga crude palm oil (CPO). Ia menyebutkan bahwa pada Maret harga CPO berada di kisaran Rp14.000 per kilogram, dan meningkat menjadi Rp15.000 lebih pada April.

“Namun, harga TBS yang diterima petani justru masih berada di angka Rp2.800-an,” katanya.

Ismail juga menegaskan bahwa mayoritas petani sawit di Babel adalah petani swadaya yang sangat bergantung pada harga jual TBS. Ia berharap pemerintah daerah hadir untuk melindungi kepentingan mereka.

Sawit Setara Default Ad Banner

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Perkebunan DPKP Babel, M. Isa Anshorie, menjelaskan bahwa perbedaan harga dipengaruhi oleh sejumlah faktor teknis, terutama biaya distribusi. Menurutnya, tingginya ongkos transportasi menjadi kendala utama yang menekan harga TBS di Pulau Bangka.

“Kendala klasiknya adalah masalah rendemen atau kadar minyak, transportasi, dan industri pengolahan. Saat ini yang paling berdampak adalah biaya transportasi yang dibebankan kepada Pabrik Kelapa Sawit (PKS),” kata Isa.

Ia juga menambahkan bahwa dari sisi infrastruktur industri, Belitung memiliki keunggulan karena fasilitas pengolahan yang lebih dekat dan terintegrasi.

“Di Belitung sudah ada pabrik pengolahan minyak goreng, jadi bisa dikirim atau dijual langsung. Sementara di Bangka, CPO kita masih harus dikirim keluar daerah, sehingga biaya pengirimannya tinggi,” ujarnya.

Perbedaan kondisi logistik inilah yang kemudian menciptakan disparitas harga di tingkat petani. Meski demikian, APKASINDO berharap pemerintah dapat mencari solusi agar harga TBS di seluruh wilayah Babel bisa lebih adil dan seragam.

Tags:

harga TBS

Berita Sebelumnya
Pengurus Kelembagaan Pekebun Sawit Bisa Kuliah Gratis Lewat Beasiswa, Ini Syaratnya

Pengurus Kelembagaan Pekebun Sawit Bisa Kuliah Gratis Lewat Beasiswa, Ini Syaratnya

Sasaran penerima meliputi pekebun dan keluarga, karyawan atau pekerja perkebunan beserta keluarga, pengurus kelembagaan atau asosiasi pekebun, hingga aparatur sipil negara (ASN) dan penyuluh di sektor sawit.

13 April 2026Edukasi

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *