KONSULTASI
Logo

Ketua Umum APKASINDO Kumpulkan DPW se-Indonesia Jelang Pertemuan dengan Menko Polkam dan KSP RI

25 Mei 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
Ketua Umum APKASINDO Kumpulkan DPW se-Indonesia Jelang Pertemuan dengan Menko Polkam dan KSP RI
HOT NEWS

sawitsetara.co - JAKARTA — Kejatuhan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia mulai memicu kekhawatiran serius di kalangan petani. Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPP APKASINDO) pun bergerak cepat mengumpulkan laporan harga dari daerah sebelum melakukan pertemuan dengan pemerintah pusat.

Ketua Umum DPP APKASINDO Dr. Ir. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO, dijadwalkan bertemu Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan RI Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago serta Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) RI Jenderal TNI (Purn) Prof. Dr. Dudung Abdurachman pada Senin (25/5/2026).

Menjelang pertemuan itu, APKASINDO menggelar rapat virtual bersama 22 Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) se-Indonesia pada Minggu (24)5/2026). Dalam rapat tersebut, Dr. Gulat meminta seluruh pengurus daerah menyampaikan perkembangan terbaru harga TBS di masing-masing wilayah.

“Di hari minggu ini, saya butuh laporan dari Ketua DPW se-Indonesia mengenai perkembangan harga TBS dari masing-masing daerah. Laporan ini akan dipergunakan untuk menjadi bahan masukan perkembangan situasi kepada pemerintah terkait kondisi petani sawit,” ujar Dr. Gulat dalam rapat daring tersebut.

Sawit Setara Default Ad Banner

Menurut dia, persoalan merosotnya harga sawit sudah menjadi perhatian Ketua Dewan Pembina DPP APKASINDO, Jenderal TNI (Purn) Dr. Moeldoko. Karena itu, organisasi diminta segera mengambil langkah agar dampak terhadap petani tidak semakin meluas.

“APKASINDO harus menjadi garda terdepan, bantu sesama petani sawit. Tidak boleh kita diam, negara membutuhkan APKASINDO dan kita harus bicara,” kata Dr. Gulat menyampaikan pesan Moeldoko kepada para pengurus wilayah.

Laporan dari sejumlah daerah menunjukkan tekanan harga terjadi cukup tajam, terutama pada sawit petani swadaya. Ketua DPW APKASINDO Kalimantan Timur, Betmen Siahaan, mengatakan banyak pabrik kelapa sawit mulai menerapkan sistem kuota pembelian. Dalam empat hari terakhir, harga TBS terus tertekan.

“Banyak laporan masuk ke saya meminta bantuan APKASINDO. Petani sudah enggan panen karena harga jatuh rendah sekali sampai Rp1.500/kg. Harapan mereka satu-satunya kepada APKASINDO,” ujar Betmen.

Situasi lebih berat dilaporkan dari Sulawesi Barat. Ketua DPW APKASINDO Sulawesi Barat, Andi Kasruddin Rajamuda, menyebut harga TBS sawit swadaya bahkan sudah menyentuh Rp800 per kilogram. Sejumlah perusahaan, kata dia, juga tidak lagi mengikuti harga penetapan pemerintah daerah.

“Kami harapkan Kementan dapat mendesak Disbun (Dinas Perkebunan) terkait masalah anjloknya harga TBS. Petani sawit mengharapkan perhatian Menteri Amran. Jangan hanya fokus kepada komoditas tertentu,” katanya.

Sawit Setara Default Ad Banner

Sementara itu, Ketua DPW APKASINDO Jambi, Kasriwandi, menyebut penurunan harga mulai terasa setelah muncul pengumuman terkait ekspor sawit BUMN. Dalam beberapa hari terakhir, harga TBS petani swadaya di daerahnya turun antara Rp200 hingga Rp400 per kilogram dan terus berlanjut hingga mencapai Rp1.250 per kilogram.

“Semalam, kami telah rapat zoom dengan Disbun Jambi untuk mendapatkan laporan dari pabrik sawit. Ada yang mencapai harga Rp1.250/kg padahal harga CPO domestic masih Rp14.000-an per kilogram,” ujar Kasriwandi.

WhatsApp Image 2026-05-25 at 10.56.35.jpeg

Ia menilai penurunan harga yang terlalu dalam tidak sepenuhnya sejalan dengan kondisi harga crude palm oil (CPO) di pasar domestik. Menurut dia, kekhawatiran perusahaan sawit terhadap kebijakan ekspor menjadi salah satu pemicu.

“Mereka (pabrik) sawit ini takut ketidakpastian sama seperti larangan ekspor. Kepada Menteri teknis, seharusnya dapat memberikan penjelasan termasuk perusahaan sawit. Ini bukan sebatas penurunan harga saja,” kata pria yang akrab disapa Bang Iwan itu.

Sawit Setara Default Ad Banner

Di akhir rapat, Dr. Gulat menyampaikan sejumlah poin sikap APKASINDO kepada perusahaan sawit dan pemerintah:

Pertama, pada prinsipnya tujuan kebijakan Presiden Prabowo adalah kebaikan semua pihak, negara, korporasi dan petani sawit.

Kedua, Harga TBS petani khususnya petani swadaya telah anjlok tertekan sampai Rp800-Rp1200 per kilogram. Sedangkan, petani bermitra penurunannya masih wajar.

Ketiga, Kebijakan Presiden tersebut baru dilaksanakan pada Januari 2027, tapi petani sawit sudah bertumbangan. Keempat, Harga Bursa CPO Indonesia Dan Tender KPBN BUMN dalam batas normal wajar hanya turun Rp450-Rp600 per kilogram CPO.

Kelima, dari perhitungan umum bahwa setiap penurunan/naik Harga CPO Rp1.000/Kg TBS Maka Harga TBS Petani Turun/Naik Rp300/Kg TBS. Tapi, faktanya Harga TBS Petani Sawit Sudah Tertekan Turun Sebesar Rp800-Rp1.200/Kg TBS.

Keenam, setelah diskusi kepada pihak yang berkompeten diketahui belum terganggu ekspor CPO dan turunannya apalagi segera diberlakukannya mandatori B50 awal Juli nanti tentu ini akan semakin meningkatkan serapan CPO untuk program tersebut.


Berita Sebelumnya
Disbun Riau Keluarkan Surat Himbauan, Minta PKS Tidak Turunkan Harga TBS Sepihak

Disbun Riau Keluarkan Surat Himbauan, Minta PKS Tidak Turunkan Harga TBS Sepihak

Kepala Disbun Riau, Supriadi, menegaskan bahwa kebijakan pemerintah pusat tersebut sejatinya bertujuan untuk jangka panjang dalam menata hilirisasi kelapa sawit nasional. Karena itu, kebijakan tersebut tidak boleh dijadikan alasan oleh pihak tertentu untuk melakukan tindakan spekulatif yang merugikan pihak lain.

24 Mei 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *