KONSULTASI
Logo

Limbah Sawit Prafi Diolah Jadi Media Jamur Tiram

21 Agustus 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Limbah Sawit Prafi Diolah Jadi Media Jamur Tiram

sawitsetara.co - MANOKWARI — Tandan kosong kelapa sawit yang melimpah di kawasan transmigrasi Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, dimanfaatkan sebagai media tanam jamur tiram. Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (UNAIR) mengolah limbah perkebunan tersebut menjadi produk bernilai ekonomi.

Program Optimalisasi Limbah Sawit sebagai Media Tanam Jamur Tiram untuk Mendukung Sanitasi Sehat dan Peningkatan Ekonomi Masyarakat di Distrik Prafi Kabupaten Manokwari Papua Barat dipimpin Prof. Dr. apt. Sukardiman, MS.

Tim mencacah tandan kosong menggunakan chopper, lalu mencampurnya dengan dedak padi, gypsum, dan kapur. Campuran tersebut dimasukkan ke dalam baglog, disterilisasi, kemudian diberi inokulan jamur tiram.

Saat ini, tim membangun kumbung atau rumah produksi. Mesin pencacah dan alat sterilisasi baglog juga disiapkan agar masyarakat dapat menjalankan produksi secara mandiri.

Prof Sukardiman mengatakan pemanfaatan limbah sawit tersebut diharapkan menjadi usaha baru bagi masyarakat Prafi.

“Harapannya, kita bisa membuat satu unit produksi jamur tiram berbasis limbah sawit. Jadi limbah yang ada di daerah itu kita olah menjadi bahan baku media tumbuh jamur,” kata Prof Sukardiman.

Menurut dia, jamur tiram dipilih karena memiliki pasar, sedangkan bahan bakunya tersedia melimpah dari perkebunan sawit di Prafi.

Program ini membuka dua sumber pendapatan. Masyarakat dapat menjual jamur tiram segar sekaligus memproduksi dan menjual baglog. Produk jamur juga akan dikembangkan menjadi keripik dan berbagai makanan olahan untuk meningkatkan nilai tambah.

DPP

Masyarakat Dilatih dari Produksi hingga Pemasaran

TEP UNAIR melibatkan PKK, Dasa Wisma, dan pemuda melalui Karang Taruna. Mereka mendapat pelatihan pengolahan limbah sawit, pembuatan baglog, sterilisasi, budidaya, pengemasan, hingga pemasaran.

Program ini melibatkan Dinas Tenaga Kerja, Dinas Pertanian, penyuluh pertanian, pemerintah kampung, UMKM lokal, PKK, Dasa Wisma, dan kelompok pemuda.

Kolaborasi tersebut juga membuka akses pemasaran melalui pelaku usaha lokal di Prafi.

“Produk yang dihasilkan nantinya dapat masuk ke pasar lokal dan memberi nilai tambah bagi masyarakat,” ujar Prof Sukardiman.

Program ini mendukung SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan, SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Prof Sukardiman mengatakan keberhasilan program tidak hanya diukur dari produksi jamur. Keberlanjutan usaha setelah pendampingan juga menjadi target utama.

“Kami berharap masyarakat memiliki keterampilan yang cukup untuk melanjutkan budidaya ini secara mandiri. Dengan begitu, pemanfaatan limbah sawit dapat terus berjalan dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat,” pungkasnya.

Tags:

limbah sawitBerita Sawit

Berita Sebelumnya
Hilirisasi Jalan Bagi Petani Sawit “Naik Kelas” dan Lebih Sejahtera

Hilirisasi Jalan Bagi Petani Sawit “Naik Kelas” dan Lebih Sejahtera

Kini, hilirisasi menjadi salah satu topik yang semakin sering didiskusikan dalam berbagai forum publik dari lingkup pemerintahan hingga berbagai lapisan masyarakat Indonesia. Saat ini, hilirisasi bahkan telah menjadi salah satu agenda prioritas dalam transformasi ekonomi dan pembangunan nasional.

20 Agustus 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *