
sawitsetara.co - JAKARTA — Praktik tumpangsari pisang di areal kelapa sawit masih banyak dilakukan petani untuk menambah pendapatan, terutama saat tanaman sawit belum menghasilkan atau ketika produktivitas kebun belum optimal. Namun, Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) mengingatkan bahwa pola tanam ini berpotensi menurunkan produksi sawit apabila tidak dikelola secara ketat.
Praktisi PPKS, Djan Muhayat, mengatakan tanaman pisang yang ditanam di sela-sela kelapa sawit pada dasarnya tidak menjadi persoalan selama populasinya terkendali. Masalah muncul ketika pertumbuhan pisang, terutama anakannya, mulai mendominasi ruang tumbuh dan mengurangi akses cahaya matahari bagi tanaman sawit.
Menurut Djan, kelapa sawit merupakan tanaman yang sangat bergantung pada intensitas cahaya matahari untuk mendukung proses fotosintesis dan pembentukan tandan buah. Karena itu, keberadaan tanaman sela yang terlalu rapat dapat menciptakan persaingan yang pada akhirnya menekan produktivitas kebun.
“Jika anakan pisang dibiarkan terlalu banyak, tanaman sawit berisiko kehilangan akses sinar matahari yang merupakan faktor utama dalam proses fotosintesis dan pembentukan produksi,” ujarnya, Selasa (23/6/2026), dikutip InfoSawit.
Djan menjelaskan risiko tersebut berbeda pada setiap jenis pisang. Pisang kepok dinilai lebih berpotensi mengganggu pertumbuhan sawit karena menghasilkan banyak anakan yang berkembang cepat dan dapat mendominasi areal tanam. Sebaliknya, varietas seperti pisang barangan dan pisang raja dianggap relatif lebih aman karena jumlah anakannya lebih sedikit dan pertumbuhannya cenderung berhenti setelah beberapa kali berbuah.
Ia menuturkan, dampak berkurangnya cahaya matahari dapat terlihat pada capaian produksi tandan buah segar (TBS). Kebun sawit dengan populasi sekitar 251 pohon per hektare yang dikombinasikan dengan tanaman sela, kata dia, berpotensi menghasilkan produksi maksimum sekitar 25 ton per hektare. Sementara kebun dengan populasi yang lebih ideal dan ruang tumbuh yang lebih terbuka dapat menghasilkan lebih dari 30 ton per hektare.
Selain memengaruhi jumlah produksi, ketersediaan cahaya yang optimal juga berpengaruh terhadap ukuran tandan yang dihasilkan tanaman. Ruang tumbuh yang lebih longgar memungkinkan penyinaran berlangsung lebih merata sehingga mendukung pembentukan tandan yang lebih besar.
“Semakin optimal tanaman mendapatkan sinar matahari, maka pertumbuhan dan pembentukan tandan juga akan lebih baik,” kata Djan.
Meski demikian, Djan tidak sepenuhnya melarang petani menerapkan tumpangsari pisang di kebun sawit. Menurut dia, pola tersebut masih dapat dipertahankan apabila kondisi ekonomi dan karakteristik lahan mengharuskannya. Namun, petani perlu memahami konsekuensi berupa potensi kehilangan produksi sawit dibandingkan kebun yang dikelola dengan populasi ideal tanpa tambahan naungan.
Di sisi lain, sistem tanam dengan populasi lebih rendah juga dapat memberikan keuntungan berupa efisiensi biaya pemupukan. Kebutuhan pupuk, kata Djan, akan mengikuti jumlah tanaman yang dipelihara sehingga biaya pemeliharaan dapat ditekan.
Karena itu, ia menyarankan petani yang tetap ingin menerapkan tumpangsari agar memilih varietas pisang dengan jumlah anakan terbatas dan secara rutin mengendalikan pertumbuhannya.
“Silakan melakukan tumpangsari, tetapi pilih varietas pisang yang anakannya tidak terlalu banyak agar tidak mengganggu pertumbuhan kelapa sawit,” ujarnya.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *