KONSULTASI
Logo

Mentan Amran Optimistis Produksi Sawit Tak Anjlok 3 Juta Ton, Pemerintah Siapkan Jurus Hadapi El Nino

1 September 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
Mentan Amran Optimistis Produksi Sawit Tak Anjlok 3 Juta Ton, Pemerintah Siapkan Jurus Hadapi El Nino

sawitsetara.co - Pemerintah merespons serius proyeksi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yang memperkirakan produksi minyak sawit Indonesia berpotensi turun hingga 3 juta ton pada 2027 akibat dampak El Nino dan cuaca ekstrem.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan pengaruh El Nino terhadap tanaman sawit memang tetap perlu diantisipasi. Namun, ia optimistis dampaknya terhadap produksi tidak akan terlalu besar apabila langkah mitigasi dilakukan sejak dini.

“Kalau sawit mudah-mudahan tidak dampaknya. Mungkin ada pengaruhnya tapi mudah-mudahan tidak besar,” kata Amran di Karawang, Jawa Barat, Senin (31/8).

Menurut Amran, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga produktivitas perkebunan, terutama menghadapi risiko kekeringan yang dapat mengganggu pertumbuhan dan produksi tanaman.

Langkah tersebut antara lain memastikan ketersediaan pupuk dan ketepatan waktu pemberian pupuk, menjaga pemeliharaan tanaman, mengendalikan serangan hama, serta mengantisipasi dampak kekeringan.

“Upaya kita adalah tentu jangan sampai kekurangan pupuk. Pupuknya harus tepat waktu. Kemudian pemeliharaannya, kemudian hama, kemudian dampak kekeringan,” ujarnya.

Amran mengatakan pengairan dapat menjadi salah satu solusi bagi tanaman sawit maupun lahan pertanian yang terdampak kekeringan, sepanjang sumber air tersedia dan memungkinkan untuk dimanfaatkan.

Ia menegaskan pemerintah tidak hanya berupaya menangani lahan yang sudah terdampak kekeringan, tetapi juga mendorong pemanfaatan lahan yang belum ditanami namun memiliki potensi sumber air.

“30 ribu (hektare lahan) ini kita tangani, di luar 30 ribu kita target Jawa kalau bisa 100 ribu (hektare). 100 ribu (hektare) yang tidak tanam tapi ada potensi air, kita tanami,” kata Amran.

DPP

Menurut dia, salah satu langkah yang dilakukan adalah memasang pompa pada wilayah yang memiliki sumber air sehingga lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat kembali ditanami.

Amran menyebut luas lahan yang mengalami kekeringan saat ini sekitar 30 ribu hektare, relatif kecil dibandingkan luas tanam nasional yang mencapai sekitar 11 juta hektare. Pemerintah, kata dia, telah melakukan penanganan terhadap lahan yang terdampak.

“Kita sudah atasi. Dan yang menarik, di luar dari kekeringan, yang tidak tanam kita ajak tanam,” ujarnya.

Sebelumnya GAPKI memperkirakan produksi minyak sawit Indonesia pada 2027 berpotensi turun sekitar 3 juta ton akibat dampak cuaca ekstrem yang berkaitan dengan El Nino.

Proyeksi tersebut sebenarnya telah mengalami perbaikan dibandingkan perkiraan sebelumnya. GAPKI sempat memproyeksikan penurunan produksi sebesar 4–5 juta ton.

Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan sejumlah wilayah perkebunan sawit sudah mulai mendapatkan hujan. Namun, kondisi cuaca yang tidak menentu masih menjadi perhatian karena kombinasi hujan berlebih, suhu panas, dan periode kering dapat mengganggu siklus produksi tanaman serta efektivitas pemupukan.

Jika proyeksi penurunan 3 juta ton tersebut terealisasi, jumlah itu setara sekitar 5 persen dari total produksi. GAPKI memperkirakan produksi sawit Indonesia pada 2026 mencapai sekitar 56,6 juta ton.

Risiko penurunan produksi tersebut menjadi semakin penting karena kebutuhan minyak sawit domestik terus meningkat, salah satunya untuk mendukung program mandatori biodiesel B50.

Dengan pasokan domestik untuk biodiesel menjadi prioritas, penurunan produksi berpotensi lebih terasa pada sisi ekspor. Kondisi tersebut pada saat bersamaan dapat memperketat pasokan minyak sawit di pasar global.

Amran sendiri menilai kinerja sawit Indonesia masih menunjukkan perkembangan positif. Ia mencontohkan ekspor produk sawit Indonesia yang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

DPP

“Karena CPO kita tahun lalu kan meningkat kan dari ekspor 26 (juta ton) menjadi 32 juta ton. Dengan seluruhnya ya, yang sudah diolah setengah jadi dan yang diekspor langsung,” kata Amran.

Di tengah ancaman perubahan pola cuaca, pemerintah kini dituntut memastikan produktivitas perkebunan tetap terjaga. Ketersediaan pupuk, pemeliharaan tanaman, pengendalian hama, serta pengelolaan air menjadi faktor penting untuk menahan dampak El Nino terhadap produksi sawit nasional.

Dengan kebutuhan sawit yang semakin besar untuk pangan, energi, dan industri, kemampuan Indonesia menjaga produksi di tengah tekanan cuaca ekstrem akan menjadi salah satu kunci stabilitas pasokan sawit nasional hingga 2027.


Berita Sebelumnya
Data GAPKI Ungkap Karhutla Tak Semata Soal Sawit, Kebakaran Terjadi di Berbagai Wilayah Indonesia

Data GAPKI Ungkap Karhutla Tak Semata Soal Sawit, Kebakaran Terjadi di Berbagai Wilayah Indonesia

Data tersebut memperlihatkan hampir seluruh provinsi di Indonesia pernah mencatat kejadian kebakaran dengan luasan yang bervariasi.

31 Agustus 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *