KONSULTASI
Logo

Pertamina Mulai Salurkan 37,92 Juta Liter B50, Distribusi Awal Dilakukan Melalui 29 Terminal

2 Juli 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Pertamina Mulai Salurkan 37,92 Juta Liter B50, Distribusi Awal Dilakukan Melalui 29 Terminal

sawitsetara.co - JAKARTA — PT Pertamina Patra Niaga mulai menyalurkan biodiesel B50 setelah kebijakan mandatori B50 resmi berlaku pada 1 Juli 2026. Pada tahap awal implementasi, perusahaan mendistribusikan sebanyak 37,92 juta liter B50 ke berbagai wilayah di Indonesia sebagai bagian dari masa transisi menuju penerapan penuh bahan bakar campuran biodiesel 50 persen tersebut.

Dilansir dari detikFinance, Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora mengatakan distribusi awal dilakukan ke hampir seluruh wilayah Indonesia.

“Untuk di awal ini akan didistribusikan 37,92 juta liter hampir di sebagian besar wilayah di Indonesia,” ujar Kitty, Kamis (2/7/2026).

Sawit Setara Default Ad Banner

Menurut Kitty, Pertamina Patra Niaga telah menyiapkan infrastruktur penyaluran mulai dari Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) hingga lembaga penyalur seperti Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan Agen Premium Minyak Solar (APMS).

Pada tahap awal, distribusi B50 dilakukan melalui 29 dari total 126 terminal yang dimiliki Pertamina. Jumlah terminal yang melayani B50 akan terus ditambah selama masa transisi berlangsung.

“Jumlah 29 tersebut akan terus bertambah secara bertahap selama masa transisi,” katanya.

Selain memperluas jaringan distribusi, Pertamina juga melakukan pemantauan terhadap proses penyaluran di lapangan agar pasokan B50 dapat diterima masyarakat tanpa hambatan.

“Kami masih terus melakukan monitoring untuk memastikan distribusi B50 sampai ke lembaga penyalur dan dapat dikonsumsi oleh masyarakat berjalan lancar,” ujar Kitty.

Sawit Setara Default Ad Banner

Penerapan mandatori B50 sendiri disertai masa transisi selama tiga bulan yang ditetapkan pemerintah. Masa tersebut diberikan kepada badan usaha agar dapat menyesuaikan operasional, termasuk menghabiskan stok biodiesel B40 yang masih tersedia serta melakukan proses pencampuran (blending) secara bertahap.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Eniya Listiani Dewi, mengatakan masa transisi diperlukan agar implementasi kebijakan berjalan tanpa mengganggu pasokan BBM di lapangan.

“Masa transisi ditetapkan 3 bulan. Nah masa transisi itu apa? Satu, menghabiskan stok,” ujar Eniya di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Kamis, 25 Juni 2026.

Ia menjelaskan kilang-kilang yang masih memiliki stok B40 diperbolehkan menghabiskannya terlebih dahulu. Namun, apabila dilakukan pencampuran, spesifikasi bahan bakar harus meningkat secara bertahap di atas kandungan B40.

Sawit Setara Default Ad Banner

Menurut Eniya, PT Pertamina (Persero) berkomitmen menghabiskan seluruh stok B40 dalam waktu dua bulan. Sementara itu, proses blending dilakukan oleh sekitar 30 badan usaha bahan bakar nabati (BU BBN), dengan porsi terbesar berada di Pertamina dan AKR yang menguasai sekitar 70 persen alokasi.

“Blending-nya kan ada 30 perusahaan, BU BBN yang dua itu yang paling besar alokasinya kan Pertamina dan AKR, yang lain itu sekitar 30%. Jadi, dua itu sudah memakan 70% share, tapi itu pun hanya 3 bulan makanya kita sesuaikan 3 bulan,” kata Eniya.

Pemerintah menargetkan seluruh SPBU di Indonesia telah sepenuhnya menyalurkan B50 mulai 1 Oktober 2026 setelah masa transisi berakhir. Adapun volume distribusi akan disesuaikan dengan kesiapan masing-masing badan usaha.

“1 Oktober mulai semua titik sudah full B-50. Nah tentang volume dan sebagainya itu kita sesuaikan dengan kemampuan, kemampuan perusahaan,” ujar Eniya.

Tags:

B50

Berita Sebelumnya
Hadapi Tekanan Global, Indonesia Dorong Kerja Sama Negara Produsen Sawit

Hadapi Tekanan Global, Indonesia Dorong Kerja Sama Negara Produsen Sawit

Indonesia mendorong terbentuknya sikap kolektif negara-negara produsen minyak sawit untuk menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari regulasi perdagangan hingga tuntutan keberlanjutan. Upaya itu mengemuka dalam The 31st Senior Officials Meeting (SOM) Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) yang digelar secara hybrid di Jakarta.

1 Juli 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *