KONSULTASI
Logo

Petani Sawit: Pernyataan IFBA Jadi Pukulan Berat Sawit Indonesia

3 Januari 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
Petani Sawit: Pernyataan IFBA Jadi Pukulan Berat Sawit Indonesia
HOT NEWS

sawitsetara.co – NEW DELHI – Pernyataan tegas Indian Food and Beverage Association (IFBA) yang melawan kampanye negatif minyak sawit dinilai menjadi pukulan berat bagi negara-negara produsen sawit, termasuk Indonesia.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Dr. Gulat Medali Emas Manurung, M.P., C.IMA., C.APO, menyebut langkah IFBA menjadi pukulan berat bagi Indonesia.

“Untuk pertama kali negara pengguna minyak nabati sawit terdepan melawan kampanye negatif sawit, ini menjadi pukulan berat bagi negara produsen minyak nabati sawit, seperti Indonesia,” ujar Dr. Gulat.

Ia menjelaskan, di saat negara importir seperti India justru membela sawit berdasarkan pendekatan ilmiah dan kepentingan ketahanan pangan, Indonesia malah dibanjiri narasi negatif terhadap komoditas andalannya sendiri.

“Mengapa jadi pukulan berat? Karena justru di Indonesia berbagai narasi sawit tidak baik menjadi isu yang tidak henti-hentinya diberitakan di berbagai media online dan cetak dalam negeri,” lanjutnya.

Sawit Setara Default Ad Banner

Menurut Dr. Gulat, meski tidak semua pihak terpengaruh, sebagian besar masyarakat Indonesia terlanjur mempercayai kampanye negatif sawit yang dibangun secara masif, terencana, dan terstruktur melalui berbagai saluran media.

“Memang tidak semua, tapi kebanyakan masyarakat Indonesia terbuai dan percaya dengan narasi kampanye negatif sawit yang dibangun secara masif, terencana dan terstruktur melalui berbagai media,” tegasnya.

Situasi tersebut, kata dia, menguras energi bangsa karena terlalu banyak kementerian dan lembaga yang terlibat dalam urusan sawit tanpa satu komando yang jelas.

“Terlampau habis energi kita selama ini karena banyaknya kementerian dan lembaga yang ambil peran di sawit. Jadi intinya ‘lawan sawit’ itu justru bersifat domestik, dari dalam negeri, termasuk terkait ke regulasi,” kata Dr. Gulat.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, APKASINDO mendorong pembentukan lembaga khusus yang menangani sawit secara terintegrasi dari hulu hingga hilir, termasuk urusan kampanye positif sawit.

Sawit Setara Default Ad Banner

“Untuk itu perlu dengan segera dibentuk badan khusus yang mengurusi sawit dari sektor hulu, hilir sampai keturunannya, termasuk kampanye sawit baik. Semoga Bapak Presiden Prabowo bisa dengan segera mengantisipasi semakin masifnya kampanye negatif sawit di dalam negeri dengan mendirikan Badan Otoritas Sawit Indonesia (BoSI),” ujarnya.

Dr. Gulat juga menyinggung posisi strategis India sebagai salah satu importir terbesar minyak sawit Indonesia dalam satu dekade terakhir.

“Pada sepuluh tahun terakhir, India merupakan salah satu negara importir terbesar minyak sawit Indonesia. Kita harusnya malu dengan pembelaan luar biasa dari Indian Food and Beverage Association (IFBA) terhadap kebermanfaatan minyak sawit di negaranya, karena justru di Indonesia sawit sangat sering disudutkan,” tegasnya.

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul sikap resmi IFBA yang menilai pencantuman label “No Palm Oil” atau “Palm Oil Free” lebih merupakan strategi politik pemasaran ketimbang informasi gizi yang berbasis sains dan pedoman resmi.

Sawit Setara Default Ad Banner

“Pencantuman label ‘No Palm Oil’ atau ‘Palm Oil Free’ pada produk pangan di India menuai sorotan tajam dari pelaku industri,” ujar Dr. Gulat dari Medan (3/01/25).

Ia mengutip pernyataan IFBA, “Alih-alih memberi edukasi gizi, praktik tersebut dinilai berpotensi menyesatkan konsumen sekaligus melemahkan ketahanan minyak nabati nasional India.”

Dalam pernyataan resmi yang dirilis Selasa (30/12/2025), IFBA menyampaikan keprihatinan atas maraknya klaim tersebut. Ketua IFBA Deepak Jolly menegaskan bahwa minyak sawit memiliki peran penting dalam pola makan sehat masyarakat India.

“Minyak sawit memiliki peran yang diakui dalam pola makan sehat dan seimbang. Namun, label seperti ‘No Palm Oil’ justru membangun persepsi keliru dengan mengedepankan politik pemasaran, bukan sains,” ujar Deepak Jolly, merujuk pada pedoman gizi Kementerian Kesehatan India.

IFBA menegaskan bahwa minyak sawit telah menjadi bagian dari konsumsi masyarakat India sejak abad ke-19 dan hingga kini tetap menjadi salah satu minyak nabati utama karena harganya terjangkau, serbaguna, stabil secara nutrisi, serta memiliki daya simpan yang panjang.

Namun, IFBA menilai derasnya narasi negatif di media sosial mendorong konsumen mengambil keputusan berdasarkan tren, bukan bukti ilmiah.

Sawit Setara Default Ad Banner

“Cerita-cerita semacam ini mengalihkan perhatian dari pentingnya keseimbangan nutrisi secara menyeluruh dan berpotensi melemahkan upaya India menuju swasembada minyak nabati,” kata Jolly, Jumat (2/1/2026).

Ia mengingatkan, dampak pelabelan menyesatkan tersebut tidak hanya dirasakan konsumen, tetapi juga petani sawit sebagai bagian dari rantai pasok, pelaku industri, hingga perekonomian nasional.

Data industri menunjukkan konsumsi minyak nabati India mencapai sekitar 26 juta ton per tahun, dengan hampir 9 juta ton di antaranya berasal dari minyak sawit. Angka tersebut menegaskan peran strategis sawit dalam menjaga ketersediaan minyak nabati yang terjangkau bagi masyarakat.

Pandangan IFBA turut diperkuat oleh Shilpa Agrawal, Director of Scientific and Regulatory Affairs IFBA. Ia merujuk pada Dietary Guidelines for Indians 2024 yang diterbitkan ICMR–National Institute of Nutrition.

“Pedoman tersebut menyebutkan bahwa tocotrienol dalam minyak sawit berperan menurunkan kolesterol dan mendukung kesehatan jantung,” jelasnya.

Menutup pernyataannya, IFBA kembali menegaskan sikapnya terhadap klaim bebas sawit.

“Label ‘Palm Oil Free’ bukan merupakan nasihat gizi yang seimbang,” tegas IFBA. “Konsumen perlu waspada terhadap klaim berlebihan yang tidak berpijak pada ilmu nutrisi,” ujar Jolly.

Tags:

APKASINDOBerita SawitSawit

Berita Sebelumnya
Guru Besar IPB: HGU Sawit Terbuka untuk Perorangan, Tapi Petani Jarang Manfaatkan karena Keterbatasan Kapasitas

Guru Besar IPB: HGU Sawit Terbuka untuk Perorangan, Tapi Petani Jarang Manfaatkan karena Keterbatasan Kapasitas

Guru Besar IPB University Prof. Sudarsono Soedomo menegaskan bahwa Hak Guna Usaha (HGU) dalam sektor perkebunan kelapa sawit secara hukum tidak bersifat eksklusif untuk korporasi besar. HGU juga dapat diberikan kepada perorangan.

2 Januari 2026 | Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *