KONSULTASI
Logo

Polimesh: Produk Atraktan Lokal Tingkatkan Fruit Set Sawit hingga 25 Persen, Tembus Pasar Afrika

12 Februari 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
Polimesh: Produk Atraktan Lokal Tingkatkan Fruit Set Sawit hingga 25 Persen, Tembus Pasar Afrika
HOT NEWS

sawitsetara.co - PEKANBARU — Produktivitas kelapa sawit tidak hanya ditentukan oleh pupuk dan pengendalian hama, tetapi juga oleh satu faktor krusial yang kerap luput dari perhatian: penyerbukan.

Lemahnya aktivitas kumbang penyerbuk Elaeidobius kamerunicus dalam beberapa tahun terakhir dinilai berdampak langsung terhadap rendahnya fruit set atau tingkat keberhasilan pembentukan buah.

Menjawab persoalan tersebut, PT Bio Sarana Indonesia menghadirkan produk atraktan bernama Polimes, yang diklaim mampu meningkatkan fruit set hingga 15–25 persen.

WhatsApp Image 2026-02-12 at 15.32.22.jpeg



District Sales Manager PT Bio Sarana Indonesia, Okto DL Naibaho S.Sos, menjelaskan bahwa Polimesh dirancang untuk merangsang aktivitas kumbang penyerbuk melalui pelepasan aroma yang menyerupai senyawa volatil alami bunga sawit reseptif.

“Bunga betina sawit yang sedang reseptif mengeluarkan senyawa estragol sebagai sinyal. Itu yang ditangkap oleh kumbang penyerbuk. Nah, Polimes memperkuat aroma tersebut sehingga kumbang menjadi lebih aktif,” ujar Okto dalam program Sawit Talk di kanal YouTube sawitsetara.co, Kamis (12/2/2026).

Menurutnya, sejak didatangkan dari Afrika pada 1983, Elaeidobius kamerunicus telah berperan besar dalam sistem penyerbukan sawit di Indonesia. Namun, dalam kurun hampir 40 tahun, sensitivitas serangga tersebut dinilai menurun.

“Kalau di lapangan sering kita temui buah kempet, buah landak, atau fruit set rendah. Salah satu penyebab utamanya adalah kurang optimalnya penyerbukan,” katanya.

Promosi ssco

Efisiensi Dibanding Penyerbukan Manual

Secara konvensional, sejumlah perkebunan besar melakukan penyerbukan buatan dengan menaburkan serbuk sari secara manual ke bunga betina reseptif. Metode ini dinilai efektif tetapi tidak efisien, terutama untuk areal luas.

“Masa reseptif bunga betina hanya sekitar 48 jam. Kalau terlambat, bisa aborsi. Di lahan kecil mungkin masih memungkinkan, tapi dalam skala luas itu menjadi mahal dan tidak praktis,” jelas Okto.

Polimesh diklaim mampu bekerja hingga tiga bulan dalam satu aplikasi, dengan cakupan sekitar 2.500 meter persegi per botol. Produk ini menggunakan sistem pelepasan aroma bertahap melalui kombinasi fase gel dan cairan yang menguap menjadi gas.

WhatsApp Image 2026-02-12 at 15.32.38.jpeg

Aman bagi Ekosistem

Okto menegaskan, aroma yang dilepaskan Polimesh bersifat spesifik dan hanya menarik kumbang penyerbuk, sehingga tidak mengganggu serangga non-target.

“Ini bukan pestisida. Aromanya adalah aroma bunga jantan saat anthesis, yang hanya disukai kumbang penyerbuk,” katanya.

Selain peningkatan fruit set, perusahaan juga mengklaim terjadi peningkatan populasi kumbang akibat aktivitas perkawinan yang lebih intens.

WhatsApp Image 2026-02-12 at 15.32.56.jpeg



Menariknya, produk ini tidak hanya dipasarkan di Indonesia. PT Bio Sarana Indonesia menyebut Polimesh telah didistribusikan ke Malaysia dan tengah diuji coba di sejumlah perkebunan di Afrika.

“Secara nasional sudah dari Aceh sampai Kalimantan. Untuk ekspor, sudah ada distributor di Malaysia dan sedang trial di Afrika,” ujar Okto.

Ia menyebut inovasi ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung sawit berkelanjutan melalui pendekatan organik dan ramah lingkungan.


Berita Sebelumnya
Embun Jelaga dan Kumbang Tanduk Intai Kebun Sawit, Pengendalian Terpadu Jadi Kunci

Embun Jelaga dan Kumbang Tanduk Intai Kebun Sawit, Pengendalian Terpadu Jadi Kunci

Ancaman organisme pengganggu tumbuhan (OPT) masih menjadi pekerjaan rumah dalam menjaga produktivitas kelapa sawit. Serangan penyakit dan hama dapat terjadi sejak fase tanaman muda hingga memasuki masa produksi.

11 Februari 2026 | Edukasi

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *