KONSULTASI
Logo

Sawit di Persimpangan Data dan Tuduhan

13 Februari 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Sawit di Persimpangan Data dan Tuduhan
HOT NEWS

sawitsetara.co - JAKARTA — Di pasar minyak nabati global, kelapa sawit menempati posisi yang tak tergantikan. Data USDA Foreign Agricultural Service menunjukkan produksi minyak sawit dunia pada tahun pemasaran 2024/2025 mencapai sekitar 78,4 juta metrik ton.

Angka ini menjadikannya minyak nabati dengan volume terbesar di dunia—mengungguli kedelai, rapeseed, dan bunga matahari. Dominasi tersebut sekaligus menempatkan sawit di tengah perdebatan: benarkah ia relatif lebih berkelanjutan dibandingkan minyak nabati utama lain?

Dilansir dari laman GAPKI, perdebatan tentang sawit kerap terjebak dalam dikotomi hitam-putih—antara komoditas perusak hutan dan penopang ekonomi global. Namun sejumlah indikator keberlanjutan berbasis satuan produksi (per ton atau per liter minyak) menghadirkan perspektif berbeda.

Promosi ssco

Produktivitas yang Sulit Ditandingi

Dalam soal efisiensi lahan, kelapa sawit memiliki keunggulan yang mencolok. Data WWF (2020) mencatat produktivitas sawit rata-rata sekitar 3,3 metrik ton minyak per hektare. Sebagai pembanding, kedelai hanya sekitar 0,4 ton per hektare.

Jika dihitung kebutuhan lahan untuk menghasilkan satu ton minyak, sawit memerlukan sekitar 0,26–0,30 hektare. Sementara itu, bunga matahari membutuhkan 1,3–1,43 hektare; rapeseed 1,25–1,4 hektare; dan kedelai 2,0–2,1 hektare. Artinya, untuk menghasilkan volume minyak yang sama, kedelai memerlukan lahan hingga tujuh sampai delapan kali lebih luas.

Produktivitas tinggi ini menjadi argumen kunci dalam diskursus keberlanjutan. Dengan lahan lebih sedikit untuk output yang sama, tekanan ekspansi global secara teoritis dapat ditekan—dengan catatan produksi dilakukan tanpa membuka hutan baru.

Biodiversitas: Hitungannya per Liter

Isu kehilangan keanekaragaman hayati sering menjadi sorotan tajam terhadap sawit. Namun studi Beyer et al. (2020) yang dipublikasikan dalam jurnal Sustainability (2021) menggunakan pendekatan yield-adjusted impact—menghitung dampak berdasarkan liter minyak yang dihasilkan. Hasilnya menunjukkan bahwa minyak sawit memiliki tingkat Species Richness Loss (SRL) terendah dibandingkan tujuh minyak nabati utama dunia.

Temuan ini bukan berarti sawit bebas dampak ekologis. Pembukaan hutan tropis jelas menimbulkan kehilangan spesies signifikan. Namun dalam kalkulasi per unit minyak, produktivitas tinggi sawit menurunkan intensitas kehilangan spesies dibandingkan tanaman ber-yield rendah yang memerlukan lahan jauh lebih luas.

Promosi ssco

Jejak Karbon dan Variabel Tata Kelola

Dalam aspek emisi karbon, hasil kajian menunjukkan gambaran yang lebih kompleks. Rapeseed oil tercatat memiliki jejak karbon terendah dalam kondisi produksi saat ini. Namun studi Beyer dan Rademacher (2021) menyebut bahwa jika dihitung berdasarkan output, jejak karbon sawit relatif kompetitif.

Kuncinya terletak pada praktik produksi. Penelitian Wageningen University & Research menegaskan bahwa pencegahan deforestasi, perlindungan lahan gambut, serta penangkapan metana dari limbah cair pabrik (POME) dapat menurunkan emisi sawit secara signifikan hingga dekade 2030–2040.

Dengan kata lain, keberlanjutan sawit bukan sekadar persoalan komoditas, melainkan tata kelola.

Intensitas Input dan Potensi Polusi

Indikator lain yang jarang dibahas adalah intensitas penggunaan pupuk dan pestisida per ton minyak. Data FAO menunjukkan bahwa untuk menghasilkan satu ton minyak, sawit rata-rata menggunakan 5 kg nitrogen, 2 kg fosfor (P₂O₅), dan 0,4 kg pestisida.

Sebagai perbandingan, rapeseed memerlukan sekitar 10 kg nitrogen, 13 kg fosfor, dan 9 kg pestisida per ton minyak. Kedelai bahkan lebih tinggi: 32 kg nitrogen, 23 kg fosfor, dan 23 kg pestisida.

Angka ini mengindikasikan bahwa dalam konteks residu input kimia per unit minyak, sawit relatif lebih efisien. Dampaknya terhadap potensi pencemaran tanah dan air—dalam perhitungan berbasis output—cenderung lebih rendah.

Bukan Soal Mengganti, Tapi Memperbaiki

Jika minyak sawit digantikan oleh minyak nabati berproduktifitas rendah untuk memenuhi kebutuhan global yang sama, konsekuensinya adalah kebutuhan lahan tambahan dalam skala besar. Ekspansi tersebut berpotensi memindahkan tekanan ekologis ke wilayah lain.

Namun, keunggulan relatif sawit bukanlah pembenaran atas praktik destruktif. Keberlanjutan sangat bergantung pada kepatuhan terhadap standar seperti ISPO dan RSPO—yang mengatur legalitas lahan, perlindungan kawasan bernilai konservasi tinggi (HCV), pengelolaan lingkungan, serta tanggung jawab sosial.

Dalam lanskap kebutuhan minyak nabati dunia yang terus meningkat, pertanyaan yang lebih relevan bukanlah apakah sawit harus dihapuskan, melainkan bagaimana memastikan produksinya berlangsung tanpa deforestasi, tanpa perampasan lahan, dan dengan peningkatan produktivitas pada lahan eksisting.

Data menunjukkan sawit memiliki efisiensi lingkungan yang kompetitif bila dihitung per liter minyak. Tetapi seperti banyak komoditas global lainnya, keberlanjutan akhirnya ditentukan bukan oleh tanamannya—melainkan oleh manusia yang mengelolanya.


Berita Sebelumnya
Konsumsi Sawit Bersertifikat RSPO Jadi Tonggak Indonesia Menuju Berkelanjutan

Konsumsi Sawit Bersertifikat RSPO Jadi Tonggak Indonesia Menuju Berkelanjutan

Indonesia kini memasuki babak baru dalam perjalanan konsumsi produk sawit berkelanjutan. Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL), setelah berhasil menciptakan formula palm-based batik wax, resmi meraih Sertifikasi RSPO Supply Chain Certification (SCC).

| Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *