KONSULTASI
Logo

Sawit Indonesia Kuasai 38 Persen Pasar Arab Saudi, BPS Nilai Peluang Ekspor Masih Terbuka Lebar

7 Agustus 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Sawit Indonesia Kuasai 38 Persen Pasar Arab Saudi, BPS Nilai Peluang Ekspor Masih Terbuka Lebar

sawitsetara.co - JAKARTA – Minyak sawit masih menjadi komoditas ekspor Indonesia yang paling dominan di pasar Arab Saudi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia menguasai lebih dari sepertiga pangsa impor minyak sawit negara tersebut, jauh melampaui negara pesaing seperti Malaysia, Ukraina, maupun Oman.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan minyak sawit menjadi produk Indonesia dengan posisi paling kuat di pasar Arab Saudi. Berdasarkan data BPS, nilai ekspor minyak sawit Indonesia ke negara tersebut mencapai US$706,47 juta dengan pangsa pasar sebesar 38,29 persen.

“Untuk minyak sawit atau minyak nabati, Indonesia menguasai pangsa pasar sekitar 38 persen yang jauh di atas Malaysia, Ukraina maupun Oman. Indonesia menjadi salah satu pemasok utama untuk komoditas ini,” ujar Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta Pusat, Kamis (6/8/2026).


apkasindo

Dominasi tersebut menunjukkan lebih dari sepertiga kebutuhan impor minyak sawit Arab Saudi dipenuhi oleh Indonesia. Meski demikian, BPS menilai potensi peningkatan ekspor masih terbuka lebar karena Indonesia baru menempati peringkat ke-18 sebagai pemasok terbesar ke Arab Saudi.


Selain sawit, sejumlah komoditas Indonesia juga telah memiliki pangsa pasar yang cukup kuat. Produk kayu dan turunannya mencatat nilai ekspor US$146,86 juta dengan pangsa pasar 8,08 persen. Kemudian kopi, the, dan rempah-rempah mencapai US$122,13 juta dengan pangsa pasar 6,61 persen, sedangkan kertas beserta produk turunannya membukukan ekspor US$103,61 juta atau menguasai 5,92 persen pasar.


Komoditas lain yang menunjukkan kinerja positif adalah olahan daging, ikan, krustasea, dan moluska dengan nilai ekspor US$78,35 juta dan pangsa pasar 19,60 persen. Selanjutnya biji dan buah mengandung minyak mencatat ekspor US$66,88 juta dengan pangsa pasar 7,27 persen, sementara alas kaki mencapai US$59,28 juta dengan pangsa pasar 5,30 persen.


apkasindo

Amalia mengatakan berbagai komoditas tersebut masih memiliki peluang untuk meningkatkan pangsa pasarnya di Arab Saudi apabila didukung strategi penetrasi pasar yang tepat.

“Untuk komoditas seperti kayu, kopi, kertas, olahan pangan, biji mengandung minyak, dan alas kaki, Indonesia memang telah memiliki pangsa pasar yang baik, tetapi masih banyak potensi pasar yang harus dikembangkan. Dengan mengetahui peta kompetitor seperti ini, kita bisa menyusun strategi penetrasi pasar yang lebih tepat,” ujarnya.

BPS mencatat nilai ekspor Indonesia ke Arab Saudi sepanjang 2025 mencapai US$3,43 miliar. Nilai tersebut meningkat sekitar enam kali lipat dibandingkan dua dekade sebelumnya. Seiring peningkatan itu, posisi Indonesia sebagai pemasok terbesar ke Arab Saudi naik dari peringkat ke-24 pada 2005 menjadi peringkat ke-18 pada 2025.

“Dalam 20 tahun peringkat ini bisa kita naikkan. Pada tahun 2005 Indonesia berada di peringkat ke-24, sedangkan pada tahun 2025 posisi Indonesia sudah meningkat menjadi pemasok terbesar ke-18 untuk pasar Arab Saudi. Tapi belum menjadi 10 besar. Mudah-mudahan ke depan peringkat Indonesia bisa terus naik secara bertahap sampai masuk 10 besar,” ujar Winny.

Tags:

ekspor sawitBerita Sawit

Berita Sebelumnya
APKASINDO: Presiden Prabowo Sangat Mencintai Sawit, Jangan Salah Persepsi

APKASINDO: Presiden Prabowo Sangat Mencintai Sawit, Jangan Salah Persepsi

Ketua Dewan Pengarah SIEXPO 2026, Dr. Ir. Gulat Medali Emas Manurung, mengatakan industri sawit nasional butuh kolaborasi seluruh pemangku kepentingan agar tetap menjadi penopang perekonomian nasional. Hal itu disampaikannya saat pembukaan SIEXPO 2026 di Ska Co-ex, Pekanbaru, Kamis (6/8/2026).

6 Agustus 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *