
sawitsetara.co – Kelapa sawit selama ini identik dengan minyak goreng, biodiesel hingga berbagai produk industri. Namun, hasil penelitian Universitas Indonesia (UI) menunjukkan bahwa komoditas ini juga menyimpan potensi besar di sektor pangan dan kesehatan, khususnya untuk mendukung pemenuhan gizi ibu hamil dan bayi.
Potensi tersebut berasal dari red palm oil (RPO) atau minyak sawit merah, yang masih mempertahankan kandungan karotenoid alaminya. Selain menjadi sumber provitamin A, minyak ini juga mengandung vitamin E dan antioksidan yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pangan fungsional maupun produk suplementasi.
Temuan itu dipaparkan Guru Besar Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ratu Ayu Dewi Sartika, dalam seminar “Inovasi Teknologi Pemanfaatan Bioaktif Sawit untuk Gizi dan Kesehatan” pada rangkaian Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 yang digelar Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) di Jakarta.
Menurut Ratu Ayu, pemanfaatan kelapa sawit secara berkelanjutan tidak hanya dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan energi, tetapi juga berpotensi mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.
“Kelapa sawit memiliki kandungan nutrisi yang sangat potensial untuk mendukung perbaikan status gizi masyarakat,” ujarnya.
Dari Riset Sawit ke Suplemen Ibu Hamil
Penelitian mengenai minyak sawit telah dilakukan Ratu Ayu dan tim sejak 2004. Seiring perkembangan riset, perhatian kemudian diarahkan pada pemanfaatan minyak sawit merah yang masih mempertahankan karotenoid alami dalam jumlah tinggi.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah pemenuhan vitamin A pada ibu hamil dan bayi, terutama selama periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Ratu Ayu menjelaskan, kebutuhan zat gizi janin meningkat dan mencapai puncaknya pada trimester ketiga kehamilan. Kondisi tersebut membuat intervensi gizi selama periode tersebut menjadi penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin.
Atas dasar itu, tim peneliti UI mengembangkan prototipe sirup berbahan red palm oil yang ditujukan bagi ibu hamil.
Pemilihan bentuk sirup menjadi bagian dari inovasi penelitian karena pemanfaatan minyak sawit merah selama ini lebih banyak ditemukan dalam produk pangan seperti margarin dan minyak goreng rumah tangga. Sementara itu, bukti ilmiah mengenai pemanfaatannya sebagai suplemen dalam bentuk sirup masih relatif terbatas.
“Kami ingin mengisi kesenjangan penelitian mengenai pemanfaatan sawit merah sebagai suplemen selama masa kehamilan, sekaligus membangun bukti klinis mengenai manfaatnya terhadap ibu maupun bayi,” kata Ratu Ayu.
Diuji pada Lebih dari 160 Ibu Hamil
Penelitian dilakukan terhadap ibu hamil trimester ketiga di empat puskesmas di Kabupaten Bogor.
Lebih dari 160 ibu hamil dengan usia kehamilan 24–33 minggu direkrut dalam penelitian tersebut dan dibagi menjadi kelompok intervensi serta kelompok kontrol.
Setelah seluruh tahapan penelitian berlangsung, sebanyak 105 responden menyelesaikan penelitian. Sebagian peserta tidak melanjutkan karena sejumlah alasan, antara lain menolak pengambilan sampel darah, tidak dapat memberikan sampel ASI, serta tidak bersedia mengikuti wawancara lanjutan.
Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan positif pada kelompok yang mengonsumsi sirup red palm oil.
Ibu hamil yang mendapatkan suplementasi mengalami peningkatan kadar hemoglobin dan serum retinol dibandingkan kelompok kontrol.
Menurut Ratu Ayu, temuan tersebut menunjukkan adanya dampak konsumsi red palm oil terhadap status gizi ibu hamil.
“Terjadi peningkatan hemoglobin pada kelompok intervensi, diikuti perubahan kadar serum retinol dibandingkan kelompok kontrol. Ini menjawab tujuan penelitian bahwa konsumsi red palm oil memberikan dampak terhadap status gizi ibu hamil,” jelasnya.
Risiko Bayi Berat Lahir Rendah Turun
Temuan yang tidak kalah penting terlihat pada hasil kelahiran.
Penelitian menunjukkan ibu yang tidak mendapatkan suplementasi red palm oil memiliki risiko sekitar empat kali lebih besar melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dibandingkan ibu yang mendapatkan sirup minyak sawit merah.
Temuan tersebut menjadi salah satu indikasi penting dalam penelitian karena BBLR masih menjadi salah satu persoalan dalam kesehatan ibu dan anak.
Meski demikian, penelitian belum menemukan perbedaan signifikan pada panjang badan bayi saat lahir. Ratu Ayu menyebut kondisi tersebut kemungkinan dipengaruhi berbagai faktor lain yang masih perlu diteliti.
Penelitian terhadap kualitas ASI juga belum memberikan kesimpulan akhir. Pasalnya, sampel ASI yang digunakan hanya diambil pada masa nifas sehingga diperlukan penelitian lanjutan dengan periode pemantauan yang lebih panjang.
“Ibu yang mendapat suplementasi menunjukkan peningkatan hemoglobin dan retinol secara simultan serta penurunan risiko bayi berat lahir rendah. Namun efektivitas terhadap kualitas ASI masih perlu diteliti lebih lanjut selama periode menyusui,” katanya.
Anemia dan Kekurangan Vitamin A Saling Berkaitan
Riset UI tersebut juga menemukan hubungan antara anemia pada ibu hamil dan rendahnya kadar vitamin A.
Ibu hamil yang mengalami anemia tercatat memiliki risiko sekitar 3,7 kali lebih tinggi mengalami kadar serum retinol yang rendah.
Menurut Ratu Ayu, temuan ini menunjukkan bahwa persoalan anemia dan kekurangan vitamin A tidak dapat dilihat secara terpisah.
“Artinya, anemia dan kekurangan vitamin A saling berkaitan sehingga keduanya perlu ditangani secara bersamaan melalui intervensi gizi yang tepat,” jelasnya.
Membuka Jalan Hilirisasi Sawit ke Pangan Fungsional
Bagi industri sawit, penelitian ini membuka perspektif baru mengenai hilirisasi. Selama ini, hilirisasi sawit banyak dikaitkan dengan biodiesel, oleokimia dan berbagai produk industri.
Padahal, red palm oil menawarkan jalur hilirisasi ke sektor pangan fungsional dan kesehatan.
Kandungan karotenoid alami yang tetap dipertahankan dalam minyak sawit merah menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan baku produk pangan bergizi maupun suplemen.
Ratu Ayu berharap penelitian tersebut dapat dilanjutkan dengan dukungan BPDP melalui studi intervensi yang secara khusus mengamati kualitas ASI selama enam bulan masa pemberian ASI eksklusif.
“Melalui riset yang berkelanjutan, kita dapat mengembangkan berbagai produk pangan yang tidak hanya aman, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan yang lebih luas,” ujarnya.
Jika riset lanjutan mampu memperkuat temuan tersebut, minyak sawit merah berpotensi memiliki peran yang lebih luas dalam ekosistem hilirisasi sawit nasional.
Bukan hanya menjadi bahan baku energi atau oleokimia, sawit juga berpeluang dikembangkan menjadi produk pangan fungsional yang menyasar kebutuhan gizi ibu dan anak.
Pada titik inilah inovasi red palm oil menjadi menarik: nilai tambah kelapa sawit tidak berhenti pada produk industrinya, tetapi dapat diarahkan hingga ke produk yang berkaitan langsung dengan pemenuhan gizi dan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *