
sawitsetara.co - BOGOR — Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang selama ini lebih banyak dipandang sebagai limbah padat industri sawit diolah menjadi prototipe krim tabir surya oleh dua siswa SMA Islam Hasmi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Dilansir dari Kompasiana, inovasi tersebut dikembangkan Tim UVANGERS RZ yang beranggotakan Rangga Putra Sudrajat, 16 tahun, dan Zaki Al Fikri Lubis, 17 tahun.
Keduanya didampingi guru pembimbing Daffa’ Rizal Dzulfaqaar Alauddin, S.Si., M.Si. Penelitian mereka berjudul “Optimasi Formulasi Tabir Surya Kombinasi Vitamin E dan Lignin Hasil Isolat Biomassa Kelapa Sawit sebagai Agen Fotokemopreventif dalam Mitigasi Risiko Kanker Kulit”.
Penelitian tersebut telah memasuki tahap pembuatan produk. Tim juga melakukan uji hedonik untuk mengetahui tingkat penerimaan panelis terhadap karakteristik krim yang dihasilkan.
“Hasil penelitian sementara cukup menggembirakan karena produk sudah berhasil dibuat dan dapat membentuk sediaan krim. Uji hedonik juga menunjukkan bahwa produk memperoleh penerimaan yang baik dari panelis,” ujar Rangga Putra Sudrajat, dikutip Senin (27/7/2026).
Gagasan penelitian itu berangkat dari dua persoalan yang selama ini kerap dibahas secara terpisah: risiko paparan radiasi ultraviolet dan potensi biomassa kelapa sawit yang belum sepenuhnya dimanfaatkan.
Radiasi ultraviolet dapat memicu stres oksidatif dan kerusakan DNA pada sel kulit. Paparan dalam jangka panjang tanpa perlindungan yang memadai dapat meningkatkan risiko penuaan dini hingga kanker kulit.
International Agency for Research on Cancer (IARC) memperkirakan terdapat lebih dari 1,5 juta kasus baru kanker kulit di dunia pada 2022. Lembaga tersebut juga memperkirakan lebih dari 80 persen kasus melanoma kulit pada tahun yang sama berkaitan dengan paparan radiasi ultraviolet.
Di sisi lain, TKKS masih mengandung komponen alami yang berpotensi dimanfaatkan. Salah satunya lignin, polimer alami yang terdapat pada dinding sel tumbuhan. Struktur aromatik lignin membuat senyawa ini mampu menyerap sebagian radiasi ultraviolet. Kandungan gugus fenolik di dalamnya juga berpotensi memberikan aktivitas antioksidan.
“Kami melihat lignin bukan hanya sebagai bagian dari limbah biomassa. Bahan ini mempunyai karakteristik yang berpotensi dikembangkan sebagai penyerap sinar UV sekaligus antioksidan,” kata Rangga.
Dalam formulasi yang dikembangkan, lignin hasil isolasi dari TKKS dipadukan dengan vitamin E atau alfa-tokoferol. Vitamin E dipilih karena dikenal memiliki aktivitas antioksidan dan telah banyak digunakan dalam produk perawatan kulit.
Zaki mengatakan kombinasi kedua bahan tersebut diharapkan menghasilkan fungsi yang saling melengkapi. Lignin diarahkan sebagai bahan penyerap radiasi ultraviolet, sedangkan vitamin E diharapkan membantu mengurangi stres oksidatif akibat pembentukan radikal bebas.
“Kami tidak hanya ingin membuat krim dari lignin. Kami mencoba mengombinasikannya dengan vitamin E agar formula memiliki potensi fotoprotektif dan aktivitas antioksidan yang lebih baik,” ujarnya.
Proses penelitian dimulai dengan mengisolasi lignin dari TKKS menggunakan metode alkaline pulping. Lignin yang diperoleh kemudian dimurnikan sebelum dicampurkan dengan vitamin E ke dalam basis krim.
Basis krim terdiri atas asam stearat, setil alkohol, gliserin, trietanolamin, dan akuades. Seluruh bahan kemudian dicampurkan melalui proses emulsifikasi hingga membentuk sediaan krim.
Tim selanjutnya mengukur pH untuk memastikan karakteristik formula berada pada kisaran yang ditargetkan. Kondisi fisik krim juga diamati, meliputi warna, aroma, tekstur, homogenitas, dan kemungkinan terjadinya pemisahan fase.
Setelah prototipe berhasil dibuat, Tim UVANGERS RZ melakukan uji hedonik. Pengujian tersebut digunakan untuk mengetahui tingkat kesukaan dan penerimaan panelis terhadap karakteristik sensori produk.
Aspek yang dinilai meliputi warna, aroma, tekstur, kenyamanan, serta sensasi krim ketika diaplikasikan. Berdasarkan keterangan tim, hasil pengujian menunjukkan tingkat penerimaan yang memuaskan.
“Panelis dapat menerima karakteristik produk yang kami buat. Penilaian tersebut menjadi hal penting karena produk tabir surya tidak hanya membutuhkan fungsi perlindungan, tetapi juga perlu memiliki tekstur, aroma, dan kenyamanan yang dapat diterima pengguna,” kata Zaki.
Meski demikian, hasil uji hedonik belum dapat digunakan untuk menyimpulkan kemampuan krim dalam melindungi kulit dari radiasi ultraviolet. Uji tersebut hanya menggambarkan tingkat penerimaan panelis terhadap karakteristik fisik dan sensori produk.
Guru pembimbing tim, Daffa’ Rizal Dzulfaqaar Alauddin, mengatakan pembedaan antara penerimaan panelis dan efektivitas produk penting dalam penelitian tersebut.
“Uji hedonik menjawab apakah produk disukai dan dapat diterima dari sisi warna, aroma, serta teksturnya. Penelitian sebelumnya juga sudah mengungkapkan jika krim dari TKKS memiliki nilai SPF 15,14 dan aktivitas antioksidan hingga 68 persen,” jelas Daffa’.
Menurut dia, keberhasilan menghasilkan prototipe menjadi capaian penting bagi penelitian yang masih dikembangkan oleh para siswa tersebut. Hasil uji hedonik yang memuaskan memberikan gambaran awal bahwa karakteristik fisik krim dapat diterima oleh panelis.
Tim UVANGERS RZ masih perlu memperkuat penelitian melalui data kuantitatif dan pengujian lanjutan untuk mengukur potensi produk secara lebih komprehensif.
“Kami senang karena gagasan ini sudah berhasil diwujudkan menjadi produk. Harapan kami, penelitian ini dapat terus dikembangkan dan memberikan alternatif pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit menjadi bahan yang lebih bernilai,” tutup Rangga.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *