KONSULTASI
Logo

2026, Direktorat Hilirisasi Perkebunan Siap Perkuat ISPO

2 Januari 2026
AuthorIbnu
EditorIbnu
2026, Direktorat Hilirisasi Perkebunan Siap Perkuat ISPO
HOT NEWS

sawitsetara.co – JAKARTA – Sebagai bagian dari penguatan kebijakan hilirisasi perkebunan nasional, Direktorat Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementerian Pertanian menempatkan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) sebagai instrumen strategis untuk memastikan bahwa peningkatan nilai tambah industri sawit berjalan seiring dengan prinsip keberlanjutan lingkungan dan tata kelola yang baik pada tahun 2026.

“ISPO kami dorong tidak semata sebagai kewajiban regulatif, tetapi sebagai standar operasional yang terintegrasi dengan pengelolaan sumber daya alam secara bertanggung jawab, efisiensi penggunaan lahan, pengurangan emisi, serta perlindungan lingkungan dalam rantai pasok perkebunan,” ungkap Kuntoro Boga Andri, Direkur Hilirisasi Perkebunan, Kementerian Pertanian, kepada sawitsetara, Jum’at (1/2/2026).


Sawit Setara Default Ad Banner

Strategi Direktorat Hilirisasi Perkebunan difokuskan pada penguatan keterkaitan antara pemenuhan prinsip ISPO dengan pengembangan industri sawit yang ramah lingkungan. Hal ini dilakukan melalui fasilitasi penerapan praktik produksi berkelanjutan, peningkatan pemanfaatan limbah dan produk samping perkebunan, serta integrasi aspek lingkungan dalam perencanaan investasi hilir.

“Pendampingan teknis dan kelembagaan juga kami prioritaskan, khususnya bagi pekebun sawit rakyat, agar penerapan ISPO tidak menimbulkan beban tambahan, tetapi justru meningkatkan produktivitas, efisiensi biaya, dan akses pasar,” tambah Kuntoro.


Sawit Setara Default Ad Banner

Ke depan, lanjut Kuntoro, menempatkan ISPO sebagai daya ungkit diplomasi dagang dan ekonomi hijau Indonesia. Dengan penguatan tata kelola, digitalisasi rantai pasok, dan peningkatan kualitas produk hilir kelapa sawit, ISPO diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan pasar global sekaligus memastikan bahwa pertumbuhan industri sawit berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan kesejahteraan pekebun.

“Inilah komitmen kami untuk menjadikan hilirisasi perkebunan Indonesia lebih inklusif, berkelanjutan, dan berdaulat pada 2026 dan seterusnya,” pungkas Kuntoro.



Berita Sebelumnya
Akademisi Ingatkan Ancaman Hama dan Penyakit, Deteksi Dini Jadi Penentu Produksi Sawit

Akademisi Ingatkan Ancaman Hama dan Penyakit, Deteksi Dini Jadi Penentu Produksi Sawit

Ancaman hama dan penyakit masih menjadi salah satu faktor krusial yang menentukan keberhasilan produksi kelapa sawit.

1 Januari 2026 | Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *