
sawitsetara.co - KUALA LUMPUR — Sebanyak 90 persen perkebunan sawit di Malaysia telah mengantongi sertifikasi Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO). Di tingkat pekebun swadaya independen, capaian sertifikasi mencapai 85 persen.
Menteri Perladangan dan Komoditi Malaysia, Noraini Ahmad, menyebut capaian tersebut menjadi penopang utama daya saing industri sawit nasional.
“Capaian ini sebagai fondasi utama dalam memperkuat daya saing industri sawit nasional di tengah meningkatnya tuntutan keberlanjutan global,” kata Noraini, Selasa (10/2/2026).
Menurut Noraini, sertifikasi MSPO kini berfungsi strategis karena menjadi prasyarat penting akses pasar, terutama ke Uni Eropa yang menerapkan standar lingkungan ketat melalui European Union Deforestation-Free Products Regulation (EUDR).
Pemerintah Malaysia, kata dia, berkomitmen memastikan kepatuhan terhadap regulasi tersebut, tidak hanya untuk sawit, tetapi seluruh komoditas berbasis lahan.
Untuk memperluas sertifikasi, Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menyalurkan hibah penuh kepada petani agar dapat memperoleh sertifikasi MSPO. Skema ini difokuskan pada pekebun kecil agar tidak tertinggal dalam memenuhi standar keberlanjutan global.
Selain sertifikasi, pemerintah Malaysia juga memperkuat aspek ketertelusuran. Noraini mengungkapkan bahwa Kementerian Perladangan dan Komoditi tengah menyelesaikan pengembangan National Traceability System atau Sistem Ketertelusuran Nasional (SKN), yang ditargetkan beroperasi penuh pada Maret 2026.
SKN mengintegrasikan tiga sistem utama, yakni Sawit Intelligent Management System (SIMS), GeoSawit, dan e-MSPO. SIMS mencatat perizinan dan transaksi rantai pasok, GeoSawit memetakan lokasi kebun dan memantau deforestasi, sementara e-MSPO menyajikan status sertifikasi dan hasil audit.
“Melalui SKN, seluruh rantai pasok minyak sawit Malaysia akan memiliki data geolokasi yang lengkap, pemantauan deforestasi, informasi kepemilikan, lisensi MPOB yang sah, status sertifikasi MSPO, hingga rekam jejak transaksi digital dari kebun sampai produk akhir,” ujar Noraini.
Saat ini, luas perkebunan sawit berizin di Malaysia mencapai sekitar 5,7 juta hektare. Pemerintah akan memusatkan kebijakan pada peningkatan produktivitas, termasuk melalui program Oil Palm Smallholder Replanting Programme 2.0, tanpa membuka lahan baru.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *