KONSULTASI
Logo

APKASINDO: Implementasi B50 Akan Perkuat Pasar Domestik dan Tingkatkan Harga TBS Petani

7 Mei 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
APKASINDO: Implementasi B50 Akan Perkuat Pasar Domestik dan Tingkatkan Harga TBS Petani

sawitsetara.co - JAKARTA — Dewan Pakar DPP APKASINDO, Dr. Gusti A. Gultom, M.Si., menegaskan implementasi biodiesel B50 yang direncanakan mulai berjalan pada Juli 2026 akan menjadi momentum penting bagi penguatan industri sawit nasional sekaligus peningkatan kesejahteraan petani kelapa sawit Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Gusti saat memaparkan materi dalam seminar di agenda pameran teknologi kelapa sawit internasional Palmex Jakarta ke-16 yang digelar di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Kamis (7/5/2026).

Dalam pemaparannya, Gusti menjelaskan bahwa minyak kelapa sawit saat ini masih menjadi komoditas strategis dunia karena menjadi minyak nabati terbesar yang dikonsumsi baik untuk kebutuhan pangan maupun industri.

“Perlu kita ketahui bahwa minyak kelapa sawit itu menjadi salah satu minyak nabati yang terbesar dikonsumsi oleh manusia baik untuk kebutuhan pangan maupun sektor industri,” ujar Gusti.

Sawit Setara Default Ad Banner

Ia memaparkan, pada periode 2024–2025 kontribusi minyak sawit terhadap total minyak nabati global mencapai sekitar 34 persen. Dari jumlah tersebut, hampir 20 persen disuplai oleh Indonesia.

Tak hanya itu, Indonesia juga masih menjadi pemain utama perdagangan minyak sawit dunia. Gusti menyebut pangsa ekspor minyak sawit Indonesia di pasar global mencapai lebih dari 50 persen pada 2024.

“Indonesia memiliki pangsa pasar atau volume ekspor lebih dari 50 persen, tepatnya 51 persen pada tahun 2024. Hal ini menunjukkan betapa besar kontribusi Indonesia terhadap penyediaan minyak nabati dunia, khususnya minyak kelapa sawit,” katanya.

Menurutnya, Indonesia bahkan berhasil menjadi produsen minyak nabati terbesar dunia dengan kontribusi sebesar 25,5 persen, melampaui China yang berada di angka 14,8 persen dan Malaysia sekitar 10,4 persen.

“Indonesia menjadi negara peringkat pertama yang mensuplai minyak nabati terbesar di dunia dengan presentasi mencapai 25,5 persen pada tahun 2024,” jelasnya.

Sawit Setara Default Ad Banner

Dalam paparannya, Gusti juga mengulas sejarah pengembangan biodiesel di Indonesia. Ia menjelaskan kebijakan biodiesel lahir karena tingginya ketergantungan Indonesia terhadap ekspor CPO mentah serta fluktuasi harga sawit di pasar global.

Ia mengatakan pada periode 2000–2004 sekitar 58 persen ekspor sawit Indonesia masih berbentuk CPO mentah sehingga Indonesia belum memperoleh nilai tambah maksimal dari industri hilir sawit.

Karena itu, pemerintah mulai mendorong pengembangan biodiesel sebagai pasar baru domestik yang mampu menyerap produksi sawit nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasar ekspor.

Ia menyebut implementasi biodiesel sejak B20 pada 2016 hingga B40 pada 2025 telah memberikan dampak nyata terhadap petani sawit.

“Apa dampaknya terhadap petani? Yang pertama adalah kepastian pasar. Petani memiliki pasar yang akan menampung buah sawit mereka. Kemudian harga yang diterima petani pun seiring peningkatan blending rate tersebut harga yang diterima di tingkat petani pun akan semakin naik,” ujarnya.

Sawit Setara Default Ad Banner

Menurut Gusti, implementasi B50 nantinya diperkirakan membutuhkan tambahan bahan baku sebesar 17 hingga 18 juta ton CPO. Kondisi itu diyakini akan memperkuat pasar TBS domestik dan meningkatkan kesejahteraan petani. Peningkatan kebutuhan domestik juga akan memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ancaman krisis energi global dan konflik geopolitik dunia.

Selain meningkatkan kesejahteraan petani, Gusti menilai implementasi B50 juga akan mendorong investasi dan membuka lapangan pekerjaan baru di daerah sentra sawit.

Gusti mengajak seluruh pihak mulai dari pemerintah, industri, akademisi hingga petani sawit untuk bersama-sama mendukung implementasi B50 agar berjalan optimal.

“Oleh karena itu dalam kesempatan ini kami ingin mengajak baik pemerintah kemudian industri akademisi dan secara khusus petani kelapa sawit di Indonesia untuk bekerja secara bersama-sama sepenuhnya mendukung implementasi B50,” kata dia.


Berita Sebelumnya
Sosialisasi Percepatan PSR di Keerom, APKASINDO Papua Dorong Kemandirian dan Hilirisasi Sawit

Sosialisasi Percepatan PSR di Keerom, APKASINDO Papua Dorong Kemandirian dan Hilirisasi Sawit

DPW APKASINDO Papua bersama Dinas Pertanian Provinsi Papua, serta koperasi dan gabungan kelompok tani (Gapoktan) menggelar sosialisasi percepatan PSR di Kabupaten Keerom, Selasa (5/5/2026).

6 Mei 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *