
sawitsetara.co - NUSANTARA — Petani sawit harus mendapat ruang yang lebih kuat dalam diplomasi dan pembentukan kebijakan sawit global. Regulasi internasional yang semakin memengaruhi akses pasar dan penghidupan petani membuat suara petani tidak lagi bisa ditempatkan hanya sebagai penerima kebijakan.
Hal itu disampaikan Director of Sustainability and Smallholder CPOPC, Antonius Yudi Triantoro, MA., dalam International Oil Palm Smallholders Forum (IOPS Forum) 2026 di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, Kamis (27/8/2026).
Dalam paparannya bertajuk “Meningkatkan Peran Petani Sawit dalam Diplomasi Internasional”, Antonius menekankan pentingnya keterlibatan petani dalam proses pembentukan dan implementasi kebijakan yang berdampak langsung terhadap kehidupan mereka.
“Jika kebijakan global berdampak langsung pada petani, maka perspektif dan suara petani harus menjadi bagian dari proses pembentukan kebijakan dan implementasinya,” ujarnya.
Menurut Antonius, sektor sawit memiliki peran strategis karena jutaan petani kecil terlibat dalam produksi sawit dunia. Karena itu, suara mereka penting dalam pembahasan mengenai pembangunan sawit berkelanjutan, termasuk ketika berhadapan dengan tuntutan regulasi dan standar pasar internasional.
Ia menjelaskan, kebijakan dan regulasi global semakin menentukan akses pasar. Pada saat yang sama, petani di berbagai negara menghadapi tantangan yang relatif sama, mulai dari ketelusuran (traceability), sertifikasi, pembiayaan, produktivitas hingga akses pasar.
Dalam kondisi tersebut, diplomasi petani dinilai dapat melengkapi diplomasi yang dilakukan pemerintah dan industri. CPOPC mendorong terbentuknya jejaring petani lintas negara agar mereka dapat berbagi pengalaman, menghadapi tantangan bersama, sekaligus memperkuat posisi dalam pembahasan kebijakan sawit internasional.
“Petani bukan hanya objek regulasi, tetapi harus menjadi mitra dalam membentuk solusi,” kata Antonius.
Dorong Farmer-to-Farmer Diplomacy
Salah satu pendekatan yang didorong CPOPC adalah farmer-to-farmer diplomacy, yakni membangun jejaring dan komunikasi langsung antarpelaku petani lintas negara. Pendekatan ini membawa perspektif akar rumput untuk melengkapi peran pemerintah, CPOPC dan industri dalam diplomasi sawit global.
Melalui pendekatan tersebut, petani diharapkan mampu menyampaikan aspirasi dan rekomendasi yang lebih kuat, sekaligus mendorong kebijakan sawit yang inklusif, berbasis sains dan dapat diterapkan di lapangan.
CPOPC sendiri telah menjalankan berbagai inisiatif untuk memperkuat kapasitas dan keterlibatan petani. Salah satunya melalui International Smallholders Workshop (ISW) yang dikembangkan sebagai inisiatif unggulan untuk memberdayakan petani kecil secara global. CPOPC juga menjalankan pelatihan Good Agricultural Practices (GAP) bagi petani di sejumlah negara anggota.
Selain itu, CPOPC aktif membawa perspektif sektor sawit dan petani kecil ke berbagai forum internasional, termasuk platform Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pendekatan yang dikembangkan adalah bottom-up, mulai dari tingkat subregional, regional hingga global.
Antonius juga menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam memperkuat advokasi sawit. Melalui inisiatif #YEAs, generasi muda sektor sawit didorong menjadi komunikator dan advokat generasi berikutnya, termasuk dalam menghadapi misinformasi mengenai sawit.
IOPS Forum Perkuat Diplomasi Petani
Dalam konteks tersebut, Antonius menilai IOPS Forum yang diinisiasi APKASINDO memiliki nilai strategis karena dapat menjadi wadah untuk memperkuat solidaritas dan jejaring petani sawit lintas negara.
Forum tersebut diharapkan menghasilkan kesamaan posisi dan rekomendasi kebijakan dari petani berbagai negara, sekaligus memperkuat suara petani dalam diplomasi sawit internasional.
“Bagi petani, sawit bukan sekadar komoditas—sawit adalah sumber penghidupan dan bagian dari pembangunan berkelanjutan,” demikian pesan yang ditekankan dalam materi presentasinya.
Dengan semakin kuatnya jejaring petani internasional, diplomasi sawit diharapkan tidak hanya berbicara mengenai kepentingan pemerintah dan industri, tetapi juga menghadirkan realitas petani sebagai bagian penting dalam merumuskan solusi keberlanjutan.
Bagi CPOPC, penguatan diplomasi petani pada akhirnya diarahkan agar petani tidak sekadar menjadi pihak yang mengikuti perubahan regulasi global, melainkan aktor strategis yang ikut membentuk arah kebijakan dan masa depan industri sawit berkelanjutan.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *