KONSULTASI
Logo

Solidaridad: Perempuan dan Generasi Muda Jadi Kunci Keberlanjutan Petani Sawit

1 September 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorEditor
Solidaridad: Perempuan dan Generasi Muda Jadi Kunci Keberlanjutan Petani Sawit

sawitsetara.co - NUSANTARA — Keberlanjutan perkebunan kelapa sawit tidak hanya ditentukan oleh peningkatan produktivitas, sertifikasi, ketelusuran (traceability) dan kepatuhan terhadap standar lingkungan. Ketahanan keluarga petani serta keterlibatan perempuan dan generasi muda juga menjadi faktor penting untuk memastikan praktik sawit berkelanjutan dapat terus dijalankan dalam jangka panjang.

Hal tersebut disampaikan Country Manager Solidaridad Indonesia, Yeni Fitriyanti, dalam International Palm Oil Forum yang merupakan bagian dari rangkaian International Oil Palm Smallholders Forum (IOPS Forum) 2026 di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, Kamis (27/8/2026).

Dalam paparannya yang mengangkat tema “The Role of Children and Women for the Sustainability of Oil Palm Smallholders”, Yeni menegaskan bahwa keberlanjutan sawit sesungguhnya dimulai dari tingkat rumah tangga petani.

“Keberlanjutan dimulai dari rumah tangga petani. Keberlanjutan petani kecil bukan hanya tentang produktivitas, sertifikasi, ketelusuran atau kepatuhan terhadap lingkungan. Ketahanan rumah tangga dan komunitas petani menentukan apakah praktik keberlanjutan dapat dipertahankan dalam jangka panjang,” ujar Yeni.

apkasindo

Menurut Yeni, perempuan dan anak muda sering kali memberikan kontribusi besar terhadap keputusan di tingkat rumah tangga maupun usaha tani, meskipun peran mereka belum selalu diakui secara formal sebagai bagian dari petani.

Perempuan, kata dia, memiliki berbagai peran strategis dalam sistem perkebunan sawit. Selain mengelola keuangan rumah tangga dan ikut menentukan pengeluaran, tabungan maupun investasi, perempuan juga dapat berperan dalam pengelolaan kebun, penerapan praktik pertanian yang baik, perlindungan lingkungan hingga penguatan organisasi petani.

Perempuan juga memiliki peluang untuk mengembangkan sumber pendapatan alternatif seperti pengolahan pangan, peternakan, agroforestri dan usaha berbasis hasil hutan bukan kayu. Diversifikasi tersebut penting untuk mengurangi ketergantungan rumah tangga terhadap pendapatan dari sawit sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga.

Regenerasi Petani Jadi Tantangan

Selain perempuan, Yeni menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam menjamin keberlanjutan perkebunan sawit. Anak-anak petani tidak cukup hanya diposisikan sebagai penerus keluarga, tetapi perlu dipersiapkan menjadi generasi baru petani yang memiliki pengetahuan, keterampilan teknologi dan kemampuan bisnis.

Generasi muda memiliki keunggulan dalam pemanfaatan teknologi digital, termasuk pencatatan data kebun, pemetaan menggunakan GPS, ketelusuran rantai pasok, akses informasi pasar dan layanan keuangan. Mereka juga berpotensi mengembangkan usaha baru yang berkaitan dengan sawit maupun komoditas pendamping.

Namun, tantangan regenerasi tidak bisa diabaikan. Salah satu pertanyaan penting yang perlu dijawab adalah bagaimana membuat sektor pertanian sawit cukup menarik secara ekonomi bagi generasi berikutnya.

“Jika bertani tidak menarik secara ekonomi bagi generasi muda, siapa yang akan mengelola perkebunan di masa depan?” kata Yeni.

Menurutnya, generasi muda juga dapat menjadi penggerak perubahan di tingkat komunitas melalui peningkatan kesadaran lingkungan, pertanian yang bertanggung jawab, ketahanan terhadap perubahan iklim serta pengembangan inovasi dan kewirausahaan.

Sementara itu, perempuan memiliki peran penting dalam transfer pengetahuan dan nilai kepada generasi berikutnya. Kolaborasi keduanya menjadi modal penting untuk memastikan keberlanjutan usaha perkebunan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

apkasindo

Akses dan Partisipasi Perlu Diperkuat

Yeni mengungkapkan, perempuan dan generasi muda masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain keterbatasan akses terhadap lahan, pembiayaan, keterampilan dan teknologi. Mereka juga masih memiliki keterbatasan dalam pengambilan keputusan, sementara sektor perkebunan menghadapi persoalan semakin menua­nya petani serta terbatasnya peluang ekonomi dan kesenjangan keterampilan digital.

Karena itu, Solidaridad mendorong penguatan akses perempuan dan generasi muda terhadap pelatihan, pembiayaan, teknologi, lahan serta informasi pasar. Keterlibatan mereka dalam kelompok tani, koperasi dan tata kelola sawit juga perlu diperluas agar tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi ikut menentukan arah pembangunan sektor tersebut.

Peluang penguatan tersebut antara lain melalui pengelolaan kebun yang inklusif, digitalisasi dan ketelusuran, kewirausahaan serta diversifikasi mata pencaharian, kepemimpinan dan aksi kolektif, serta pembentukan generasi baru petani sawit.

Solidaridad juga mendorong berbagai program peningkatan kapasitas, mulai dari pelatihan praktik pertanian yang baik, keselamatan dan kesehatan kerja, literasi keuangan, pemetaan partisipatif menggunakan GPS, pertanian regeneratif, pemahaman dasar gender, hak-hak pekerja perempuan, penguatan kelompok petani dan perempuan, hingga pelatihan kewirausahaan, akses pasar dan kepemimpinan.

Investasi pada Manusia

Dalam menghadapi tuntutan keberlanjutan dan perubahan pasar global, keterlibatan perempuan dan generasi muda juga semakin penting, termasuk dalam penerapan ketelusuran dan produksi yang bertanggung jawab.

Yeni menilai investasi pada sumber daya manusia harus berjalan beriringan dengan perbaikan praktik perkebunan. Sebab, keberlanjutan sawit pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan generasi yang mengelola kebun untuk memahami, menerapkan dan mengembangkan praktik-praktik berkelanjutan.

“Sawit berkelanjutan tidak hanya membutuhkan praktik pertanian yang lebih baik, tetapi juga investasi pada orang-orang yang akan mengelola sektor ini hari ini dan di masa depan,” tegas Yeni.

Pesan tersebut menjadi relevan dalam IOPS Forum 2026 yang mempertemukan pemangku kepentingan dan petani sawit. Penguatan peran perempuan dan generasi muda dapat menjadi bagian dari strategi yang lebih luas untuk membangun petani sawit yang tidak hanya produktif, tetapi juga tangguh menghadapi perubahan iklim, tuntutan pasar, perkembangan teknologi dan standar keberlanjutan global.

Dengan memberikan ruang yang lebih besar bagi perempuan dan generasi muda dalam pengambilan keputusan, peningkatan kapasitas, kewirausahaan serta pengelolaan perkebunan, keberlanjutan sawit diharapkan tidak berhenti pada pemenuhan standar, tetapi benar-benar memperkuat ketahanan ekonomi keluarga dan komunitas petani dari generasi ke generasi.

Tags:

IOPSInternational Oil Palm Smallholder ForumBerita SawitSolidaridad Indonesia

Berita Sebelumnya
Data GAPKI Ungkap Karhutla Tak Semata Soal Sawit, Kebakaran Terjadi di Berbagai Wilayah Indonesia

Data GAPKI Ungkap Karhutla Tak Semata Soal Sawit, Kebakaran Terjadi di Berbagai Wilayah Indonesia

Data tersebut memperlihatkan hampir seluruh provinsi di Indonesia pernah mencatat kejadian kebakaran dengan luasan yang bervariasi.

31 Agustus 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *