KONSULTASI
Logo

Dari Kebun Sawit ke Langit Dunia, Indonesia Menyiapkan Bioavtur untuk Era Penerbangan Rendah Karbon

23 Juli 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Dari Kebun Sawit ke Langit Dunia, Indonesia Menyiapkan Bioavtur untuk Era Penerbangan Rendah Karbon

sawitsetara.co - JAKARTA — Indonesia tidak lagi hanya menempatkan kelapa sawit sebagai komoditas pangan dan bahan baku biodiesel. Minyak sawit kini diarahkan untuk memasuki sektor yang selama ini dianggap sulit didekarbonisasi: penerbangan.

Dilansir dari laman GAPKI, melalui pengembangan bioavtur berbasis minyak inti sawit, Indonesia tengah membangun pijakan untuk masuk ke pasar Sustainable Aviation Fuel (SAF), bahan bakar penerbangan berkelanjutan yang diproyeksikan menjadi salah satu instrumen utama pengurangan emisi karbon industri penerbangan dunia.

Bioavtur merupakan bahan bakar penerbangan yang dihasilkan dari campuran avtur konvensional berbasis fosil dengan komponen berbasis minyak sawit. Bahan bakar ini dirancang agar dapat digunakan pada pesawat yang telah beroperasi tanpa memerlukan perubahan besar pada mesin maupun infrastruktur bandara.

Langkah tersebut menjadi penting di tengah meningkatnya tekanan global untuk mencapai target net-zero emission. Jika kendaraan darat mulai beralih ke tenaga listrik, pesawat masih sangat bergantung pada bahan bakar cair berenergi tinggi. Karena itu, SAF dinilai sebagai salah satu solusi paling realistis untuk menekan emisi penerbangan dalam jangka menengah dan panjang.

Apj

RBDPKO Jadi Bahan Baku

Indonesia mengembangkan bioavtur dengan memanfaatkan RBDPKO atau Refined Bleached Deodorized Palm Kernel Oil. Bahan ini merupakan minyak inti sawit yang telah melalui proses pemurnian, pemucatan, dan penghilangan bau sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku energi.

Pengembangan bioavtur tersebut dilakukan PT Kilang Pertamina Internasional melalui teknologi co-processing di Kilang Cilacap, Jawa Tengah.

Teknologi co-processing memungkinkan bahan baku berbasis sawit diproses bersama bahan bakar fosil dalam unit kilang yang sama. Pendekatan ini menjadi salah satu keunggulan karena pengembangan SAF tidak harus selalu dilakukan dengan membangun fasilitas baru secara besar-besaran.

Dengan memanfaatkan infrastruktur kilang yang telah tersedia, produksi bahan bakar penerbangan berkelanjutan dapat dikembangkan secara lebih efisien dan cepat.

Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan bahan baku. Posisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk tidak hanya menjadi pemasok komoditas sawit, tetapi juga pemain dalam rantai pasok SAF global.

Riset Berjalan Sejak 2010

Pengembangan bioavtur nasional bukanlah proyek yang muncul dalam waktu singkat. Risetnya telah dimulai sejak 2010 oleh Research & Technology Innovation Pertamina.

Dalam prosesnya, Pertamina menggandeng sejumlah lembaga dan perusahaan, antara lain Direktorat Jenderal EBTKE, Institut Teknologi Bandung, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit, Garuda Indonesia, PT Dirgantara Indonesia, dan Garuda Maintenance Facility.

Kolaborasi tersebut menghasilkan formula SAF J2.4. Formula ini kemudian berhasil diproduksi di Refinery Unit IV Cilacap pada 2021 dengan kapasitas mencapai 1.350 kiloliter per hari.

Namun, produk tersebut tidak langsung digunakan untuk penerbangan komersial. Bioavtur harus melewati serangkaian pengujian, mulai dari pengujian laboratorium, ground run, hingga uji terbang menggunakan pesawat CN-235.

Tahapan pengujian itu menjadi bagian penting untuk memastikan bahan bakar berbasis minyak inti sawit memenuhi persyaratan keselamatan dan kinerja penerbangan.

Apj

Terbang Perdana pada 2023

Tonggak penting pengembangan bioavtur Indonesia terjadi pada 27 Oktober 2023.

Pada tanggal tersebut, Pertamina dan Garuda Indonesia melaksanakan penerbangan komersial menggunakan bioavtur berbasis minyak inti sawit. Penerbangan menggunakan pesawat Boeing 737-800 NG dengan rute Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Adi Soemarmo, Solo.

Penerbangan itu menjadi penanda bahwa bahan bakar berbasis sawit dapat digunakan dalam penerbangan komersial tanpa perubahan besar terhadap sistem pesawat.

Hasil pengujian menunjukkan tidak terdapat perbedaan operasional yang signifikan dibandingkan dengan penggunaan avtur konvensional. Dengan kata lain, sawit tidak hanya berhenti sebagai bahan baku produk yang digunakan di darat, tetapi telah diuji untuk menggerakkan pesawat di udara.

Pasar Global Menunggu

Peluang pengembangan bioavtur semakin besar seiring meningkatnya kebutuhan dunia terhadap SAF.

Sejumlah proyeksi internasional memperkirakan kebutuhan Sustainable Aviation Fuel global dapat mencapai sekitar 450 miliar liter per tahun pada 2050. Angka itu mencerminkan besarnya kebutuhan bahan bakar alternatif untuk mendukung target dekarbonisasi industri penerbangan.

Bagi Indonesia, pasar tersebut merupakan peluang ekonomi sekaligus tantangan strategis.

Selama ini, hilirisasi sawit banyak diarahkan pada produk pangan, oleokimia, dan biodiesel. Bioavtur membuka ruang baru untuk menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.

Jika dikembangkan secara konsisten, minyak sawit tidak hanya menjadi komoditas yang diperdagangkan dalam bentuk minyak mentah atau produk olahan dasar. Komoditas tersebut dapat menjadi bahan baku industri energi berteknologi tinggi.

Apj

Harga dan Teknologi Masih Menjadi Tantangan

Namun, pengembangan bioavtur dalam skala komersial masih menghadapi sejumlah persoalan.

Biaya produksi SAF masih lebih tinggi dibandingkan avtur berbasis fosil. Selain itu, pengembangan teknologi pengolahan lanjutan membutuhkan investasi besar.

Persoalan lain adalah pembangunan rantai pasok bahan baku yang berkelanjutan. Ketersediaan bahan baku harus diikuti dengan standar keberlanjutan yang dapat diterima pasar global.

Regulasi dan insentif juga masih perlu terus disempurnakan. Di sisi lain, permintaan domestik terhadap SAF masih dalam tahap berkembang.

Pemerintah telah menyiapkan berbagai bentuk dukungan, termasuk insentif fiskal untuk pengembangan bioavtur berbasis minyak sawit. Dukungan kebijakan diperlukan agar pengembangan SAF tidak berhenti pada tahap riset dan uji coba, tetapi dapat masuk ke tahap produksi komersial.

Bagi Indonesia, bioavtur menjadi salah satu pilihan strategis dalam memperluas hilirisasi sawit. Komoditas yang selama ini identik dengan minyak goreng dan biodiesel itu mulai diarahkan ke sektor penerbangan, industri dengan kebutuhan energi tinggi dan tuntutan dekarbonisasi yang semakin besar.

Dengan dukungan riset, investasi, teknologi, dan kebijakan yang konsisten, bioavtur berbasis sawit berpotensi menjadi produk hilir bernilai tambah tinggi sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam transisi energi global.

Dari kebun sawit, Indonesia kini mencoba menembus langit dunia.


Berita Sebelumnya
Harga CPO Malaysia Diproyeksi Tembus 4.650 Ringgit per Ton pada Agustus

Harga CPO Malaysia Diproyeksi Tembus 4.650 Ringgit per Ton pada Agustus

Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Malaysia diperkirakan masih berada di level tinggi pada Agustus 2026. Namun, ruang penguatan harga komoditas tersebut dinilai terbatas karena permintaan yang melemah dan tingginya persediaan minyak nabati di pasar utama.

22 Juli 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *