
sawitsetara.co - PEKANBARU — Penurunan kualitas fruit set pada kelapa sawit mulai menjadi perhatian serius praktisi perkebunan. Rendahnya jumlah buah terbentuk dalam satu tandan, munculnya buah kempet hingga partenokarpi (buah tanpa biji), disebut sebagai indikasi lemahnya proses penyerbukan.
District Sales Manager PT Bio Sarana Indonesia, Okto DL Naibaho S.Sos, menilai persoalan ini tidak bisa dipandang sepele karena berimplikasi langsung terhadap produksi nasional.
“Kurang optimalnya penyerbukan berdampak pada kandungan minyak dan produksi. Ini bukan hanya isu kebun tertentu, tetapi sudah menjadi perhatian bersama,” ujar Okto dalam program Sawit Talk di kanal YouTube sawitsetara.co, Kamis (12/2/2026).
Ia menjelaskan bahwa penyerbukan kelapa sawit sangat bergantung pada satu agen utama, yakni kumbang Elaeidobius kamerunicus, yang didatangkan dari Afrika pada 1983. Namun, setelah hampir empat dekade, efektivitas serangga tersebut dinilai menurun.

Dalam berbagai forum dan konsorsium sawit, bahkan telah diupayakan introduksi spesies baru dari Tanzania seperti Elaeidobius plagiatus dan Elaeidobius singularis untuk memperkuat sistem penyerbukan alami.
Dampak Penggunaan Pestisida Kimia
Okto menambahkan, praktik budidaya yang kurang ramah lingkungan turut berkontribusi terhadap penurunan populasi kumbang penyerbuk.
“Penyemprotan pestisida kimia untuk hama tertentu sering kali juga membunuh serangga penyerbuk. Ini yang jarang disadari,” katanya.
Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem kebun, termasuk dengan mengurangi penggunaan bahan kimia berlebihan.
Polimes Perkuat Sinyal Alami Bunga
Sebagai bagian dari solusi, PT Bio Sarana Indonesia memperkenalkan produk atraktan organik bernama Polimesh. Produk ini dirancang untuk memperkuat aroma alami bunga sawit reseptif yang mengandung senyawa volatil seperti estragol.
Secara ilmiah, bunga betina sawit yang siap diserbuki mengeluarkan aroma sebagai sinyal bagi kumbang penyerbuk. Namun, ketika sensitivitas serangga melemah, sinyal tersebut tidak lagi efektif.
“Polimesh bekerja dengan memperkuat aroma tersebut sehingga kumbang menjadi lebih aktif dan responsif,” ujar Okto.

Produk ini menggunakan sistem pelepasan bertahap melalui kombinasi fase gel dan cairan yang menguap menjadi gas. Dalam satu aplikasi, Polimes diklaim mampu bertahan hingga tiga bulan dengan cakupan sekitar 2.500 meter persegi.
Menurut data internal perusahaan, penggunaan Polimesh dapat meningkatkan fruit set rata-rata 15–25 persen. Selain itu, peningkatan aktivitas serangga juga disebut mendorong pertambahan populasi melalui proses perkawinan yang lebih intens.
Alternatif Lebih Efisien
Okto membandingkan pendekatan ini dengan metode penyerbukan buatan atau assisted pollination yang dilakukan secara manual.
“Masa reseptif bunga betina hanya sekitar 48 jam. Kalau terlambat, bisa aborsi. Dalam skala luas, metode manual menjadi tidak efisien dan memerlukan biaya tenaga kerja tinggi,” katanya.
Dengan sistem atraktan, menurutnya, proses penyerbukan kembali diserahkan pada mekanisme alami, namun dengan dukungan penguatan sinyal aroma.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *