
sawitsetara.co - PEKANBARU - Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Dr. Gulat Medali Emas Manurung, M.P., C.IMA, menyoroti fenomena baru dalam pergerakan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit yang justru mengalami kenaikan menjelang hari-hari besar nasional, sebelumnya ada-ada saja alasan PKS menurunkan harga.
Menurut Gulat, dalam beberapa tahun terakhir, khususnya tiga tahun terakhir, harga TBS yang diterima petani menunjukkan tren yang lebih stabil bahkan meningkat menjelang hari besar seperti Idulfitri, Natal, maupun perayaan nasional lainnya.
“Selama ini menjelang hari-hari besar identik dengan turunnya harga TBS petani, meskipun harga CPO sebenarnya dalam kondisi normal. Namun dalam beberapa tahun terakhir, termasuk tahun ini sejak awal Ramadan hingga mendekati lebaran, harga TBS petani justru terus mengalami kenaikan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa fenomena ini tidak lepas dari meningkatnya persaingan antar pabrik kelapa sawit (PKS), khususnya antara PKS inti-plasma dengan PKS yang tidak memiliki kebun sendiri atau yang dikenal dengan PKS komersial.
Gulat menilai keberadaan PKS komersial memberikan dampak positif terhadap pembentukan harga TBS di tingkat petani. Pasalnya, PKS jenis ini bergantung pada pasokan buah dari petani sehingga harus bersaing dalam menawarkan harga yang lebih menarik ke petani pemasok bahan bakunya.
“Di sinilah manfaat persaingan PKS. Kehadiran PKS komersial membuat persaingan harga semakin sehat. Dan yang paling diuntungkan dari kondisi ini adalah petani sawit. Pada kondisi ini, kenapa PKS Inti Plasma takut?” jelasnya.
PKS komersial sendii, memperoleh izin dari Kementerian perindustrian dan tidak diwajibkan memiliki kebun inti maupun plasma seperti PKS Inti Plasma yang izinnya berasal dari Kementerian Pertanian. Kondisi ini membuat PKS komersial lebih aktif menyerap buah dari petani swadaya.
Gulat menilai, meningkatnya persaingan antar pabrik komersil dalam memperebutkan bahan baku TBS telah memberikan efek positif terhadap peningkatan harga yang diterima petani, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani sawit dan multiplier effect lainnya.
“PKS Komersil dengan PKS Inti Plasma tidak tepat dikatakan bersaing, karena sumber bahan bakunya berbeda. Jadi sesama PKS Komersillah yang bersaing. Persaingan antar PKS Komersil ini pada akhirnya mendorong harga TBS petani swadaya menjadi lebih baik dan terukur dan harga TBS Petani swadaya selalu menjadi cermin bagi petani plasma.
Jika petani yang diuntungkan dari persaingan tersebut, maka itu sejalan dengan tujuan Presiden Prabowo dalam delapan point asta cita, yaitu salah satunya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam hal ini petani sawit dan sektor pekerjaan terkait sawit ,” katanya.
Di sisi lain, Gulat juga mengingatkan agar polemik terkait keberadaan PKS komersil tidak disikapi secara sepihak. Ia menilai keberadaan PKS komersial justru menjadi solusi bagi daerah-daerah yang memiliki potensi buah sawit petani yang tinggi namun terbatas dalam akses pabrik pengolahan.
Menurutnya, secara logika investasi, tidak mungkin pengusaha membangun PKS dengan nilai investasi Rp100 milyar lebih jika tidak ada kepastian sumber bahan baku.
Lebih lanjut, Gulat menjelaskan bahwa keberadaan PKS yang memperoleh perizinan dari kementerian perindustrian tetap perlu dilihat secara objektif, terutama di daerah yang memiliki potensi buah sawit petani swadaya yang tinggi.
Ia mengatakan, jika di suatu wilayah potensi buah sawit dari petani sangat besar sementara kapasitas pabrik terbatas atau hanya PKS Inti Plasma yang ada, maka bakal tauran TBS petani sawit swadaya.
“Semua orang tau bahwa PKS inti-plasma itu dibangun hanya untuk menerima buah dari inti dan plasma, itu hakekatnya, jikapun terpaksa menerima TBS Petani yang bukan mitranya (petani swadaya), itu sifatnya insidentil artinya jika pasokan TBS nya menurun dari inti dan plasma. Apakah nasib petani swadaya juga disuruh insidentil?. Saat ini petani sawit swadaya sangat dimanusiakan dengan kehadiran PKS Komersil,” kata Gulat.
Untuk itu kepada perusahaan yang tipologi inti-plasma jangan cari-cari alasan terselubung dengan maksud monopoli, kami sarankan untuk ‘lebih memesrakan diri’ dengan plasmanya, evaluasi dirilah.
Gulat menilai perusahaan perlu melakukan refleksi terhadap implementasi kemitraan yang diatur dalam regulasi khususnya UUC 2020 dan Permentan 13 tahun 2024.
“Harusnya ini menjadi cermin bagi PKS inti-plasma yang sudah ada selama ini untuk mengoreksi diri, apa yang sudah di implementasikan aturan kemitraan?. Bagaimana dengan kewajiban bermitra 20 persen? Apakah sudah dijalankan, apakah dirawat kemitraannya? Dan apa kendalanya?” kata Gulat.
Gulat menegaskan bahwa kunci utama dari dinamika industri sawit tetap berada pada pembentukan harga TBS yang adil bagi petani, inklusif, dan PKS Komersil salah satu jembatan menuju kesana.
“Persaingan antar PKS akan menguntungkan petani sawit. Jika petani yang diuntungkan dari persaingan pabrik tersebut, justru itulah yang diinginkan Presiden Prabowo Subianto untuk mensejahterakan dan memberikan manfaat kepada petani serta masyarakat sekitar,” ujarnya.
Gulat juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemangku kepentingan industri sawit, khususnya PKS komersial yang dinilainya telah menempatkan petani sebagai mitra strategis dalam rantai pasok industri sawit.
Ia berharap kebersamaan antara petani, pabrik, dan pemerintah dapat terus dijaga demi kemajuan industri kelapa sawit nasional.
“Terima kasih kepada seluruh stakeholder sawit, khususnya PKS komersial yang telah mendengar dan menempatkan petani sawit swadaya sebagai mitra strategis. Ke depan, kebersamaan ini harus terus dijaga demi kesejahteraan petani dan kemajuan industri sawit Indonesia,” pungkasnya.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *