
sawitsetara.co - JAKARTA – Pergerakan harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar global menunjukkan penguatan terbatas di tengah kombinasi sentimen optimisme dan kehati-hatian pelaku pasar. Harapan terhadap perbaikan ekspor Malaysia dan potensi penurunan produksi memberikan dorongan awal, namun tingginya persediaan dan lemahnya permintaan global masih menjadi penahan utama.
Data Bursa Malaysia Derivatives menunjukkan harga CPO kontrak Maret sempat menguat hingga menyentuh level 4.024 ringgit per ton. Meski demikian, penguatan tersebut belum cukup mengubah tren sejak awal tahun, di mana harga masih tercatat melemah secara year-to-date.

Kondisi ini mencerminkan situasi pasar yang belum sepenuhnya pulih. Di satu sisi, lonjakan ekspor Malaysia pada awal Januari memunculkan optimisme baru. Di sisi lain, volume stok yang masih besar menimbulkan kekhawatiran bahwa ruang kenaikan harga akan tetap terbatas dalam jangka pendek.
Direktur perusahaan pialang Pelindung Bestari Sdn, Paramalingam Supramaniam, menilai pasar masih berada dalam fase transisi. Ia menyebut persediaan CPO Malaysia yang masih mendekati 3 juta ton sebagai faktor utama yang menahan pemulihan harga secara lebih agresif.
“Kita memang melihat perbaikan ekspor dan ekspektasi penurunan produksi, tetapi tekanan belum sepenuhnya hilang karena pasokan masih tertahan di tangki,” ujarnya, dikutip dari Bloomberg, Rabu (7/1/2025).

Tekanan tambahan datang dari pasar minyak nabati pesaing. Harga minyak kedelai di Dalian Commodity Exchange turut menguat, sementara prospek panen kedelai Brasil yang melimpah diperkirakan akan menambah pasokan global. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi daya saing minyak sawit di pasar internasional.
Selain itu, potensi penguatan mata uang ringgit pada pertengahan tahun juga dinilai dapat menekan permintaan ekspor, karena membuat harga CPO Malaysia menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
Survei Intertek Testing Services mencatat ekspor CPO Malaysia melonjak 31 persen pada periode 1–5 Januari dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya. Namun, lonjakan ini belum cukup untuk mengimbangi akumulasi stok nasional yang diperkirakan naik selama sepuluh bulan berturut-turut hingga Desember, mencapai sekitar 2,99 juta ton—level tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.
Dengan kombinasi stok tinggi dan permintaan yang belum pulih, pelaku pasar menilai pergerakan harga CPO ke depan masih akan cenderung fluktuatif dan rentan tekanan, meski terdapat sentimen positif jangka pendek dari sisi produksi dan ekspor.
Tags:



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *