
sawitsetara.co - Harga Crude Palm Oil (CPO) melonjak tajam di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) usai libur Tahun Baru Imlek. Kenaikan ini mencerminkan ketatnya persaingan minyak nabati di pasar global sekaligus meningkatnya sentimen positif terhadap komoditas sawit menjelang Ramadan.
Berdasarkan data perdagangan BMD, kontrak berjangka CPO Maret 2026 naik 80 Ringgit Malaysia menjadi 4.093 Ringgit per ton. Kontrak April 2026 melonjak 94 Ringgit ke level 4.114 Ringgit per ton, sementara Mei 2026 melejit 101 Ringgit menjadi 4.117 Ringgit per ton.
Tak hanya itu, kontrak Juni 2026 naik 105 Ringgit ke posisi 4.116 Ringgit per ton. Sedangkan kontrak Juli dan Agustus masing-masing menguat 103 dan 106 Ringgit per ton. Lonjakan serentak ini menandakan adanya penyesuaian harga signifikan setelah pasar Malaysia kembali aktif pasca libur panjang.
Dipicu Harga Minyak Kedelai dan Minyak Mentah
Kenaikan harga CPO dipicu reli minyak nabati pesaing, terutama minyak kedelai di pasar Chicago, serta menguatnya harga minyak mentah dunia. Penguatan harga energi global meningkatkan daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel.
Kepala riset komoditas Sunvin Group, Anilkumar Bagani, menyebut lonjakan ini merupakan respons terhadap penguatan kontrak minyak nabati dan energi selama pasar Malaysia tutup. Ia menilai pasar tengah mengantisipasi peningkatan permintaan global, terutama menjelang Ramadan.
Selain itu, kekhawatiran geopolitik terkait potensi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran turut mendorong kenaikan harga minyak mentah. Dampaknya, komoditas berbasis energi seperti CPO ikut terdorong naik.
Ringgit Melemah, Permintaan Asing Terdongkrak
Faktor lain yang menopang kenaikan adalah melemahnya nilai tukar Ringgit Malaysia terhadap dolar AS sebesar 0,18 persen. Pelemahan ini membuat harga minyak sawit Malaysia relatif lebih murah bagi pembeli asing, sehingga berpotensi meningkatkan permintaan ekspor.
Namun, potensi kenaikan lebih lanjut masih dibatasi oleh lesunya aktivitas perdagangan di China. Dalian Commodity Exchange yang masih tutup karena libur Imlek dijadwalkan kembali beroperasi pada 24 Februari. Pasar menanti aktivitas perdagangan di bursa tersebut sebagai indikator sentimen permintaan regional.
Stok dan Ekspor Jadi Penentu Arah Harga
Pelaku pasar juga mencermati potensi percepatan panen di Malaysia menjelang Ramadan guna menahan penurunan signifikan stok akhir Februari. Jika ekspor tak menunjukkan perbaikan, peningkatan produksi bisa menekan harga dalam jangka pendek.
Sejumlah lembaga survei kargo dijadwalkan merilis estimasi ekspor minyak sawit Malaysia periode 1–20 Februari. Data ini dinilai krusial untuk menentukan arah harga selanjutnya.
Lonjakan harga CPO kali ini menegaskan ketatnya persaingan pasokan minyak nabati global. Dengan kombinasi faktor permintaan musiman, dinamika geopolitik, fluktuasi mata uang, serta pergerakan harga energi, volatilitas CPO diperkirakan masih akan tinggi dalam beberapa pekan ke depan.
Bagi pelaku industri sawit dan investor, momentum ini menjadi sinyal penting untuk mencermati strategi ekspor, manajemen stok, serta peluang pasar menjelang Ramadan 2026.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *