
sawitsetara.co - JAKARTA - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri guna membangun ekosistem riset serta hilirisasi sawit berkelanjutan yang terintegrasi dan berdampak nyata bagi perekonomian nasional.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menegaskan bahwa perguruan tinggi kini tidak lagi cukup hanya menjadi pusat penghasil lulusan dan publikasi ilmiah. Kampus, kata dia, harus bertransformasi menjadi motor penggerak inovasi nasional yang mampu menghadirkan solusi konkret bagi industri, termasuk sektor kelapa sawit.
“Perguruan tinggi tidak boleh hanya berhenti pada publikasi, tetapi harus menghasilkan inovasi yang berdampak dan terhilirisasi. Kalau ini bisa kita perhatikan dengan lebih presisi dan tervalidasi, akan sangat baik,” ujar Brian dalam keterangan di Jakarta, Kamis.
Menurutnya, penguatan kapasitas laboratorium, pengembangan pusat riset tematik, serta perluasan jejaring kolaborasi dengan dunia usaha menjadi prioritas utama dalam membangun ekosistem inovasi yang solid. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat proses hilirisasi, sehingga hasil riset tidak berhenti pada tahap purwarupa, melainkan benar-benar diimplementasikan di lapangan.
Brian menilai, kolaborasi strategis antara kampus, industri, dan pemerintah merupakan kunci percepatan transformasi sektor sawit. Riset terapan yang melibatkan akademisi, peneliti, serta pelaku usaha dapat diarahkan pada pengembangan teknologi budidaya yang lebih efisien, sistem pengolahan berbasis inovasi, hingga model tata kelola yang selaras dengan prinsip keberlanjutan.
Ia juga menekankan pentingnya penerapan skema rendah emisi dan penggunaan teknologi ramah lingkungan dalam pengelolaan kebun sawit ke depan. Pendekatan ini dinilai penting untuk menjawab tantangan global sekaligus meningkatkan daya saing produk sawit Indonesia.
“Tingkat produktivitas kita cenderung rendah dibandingkan negara lain. Banyak peluang yang bisa kita perbaiki. Kita ingin kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah diperkuat agar riset tidak berhenti di laboratorium,” jelasnya.
Selain itu, Brian menyoroti pentingnya integrasi pembelajaran di kampus dengan kebutuhan industri. Pendekatan multidisipliner dianggap krusial untuk menjawab kompleksitas isu sawit yang tidak hanya berkaitan dengan aspek agronomi, tetapi juga teknologi, lingkungan, ekonomi, hingga kebijakan publik.
Melalui sinergi tersebut, Kemdiktisaintek menegaskan komitmennya membangun ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada dampak. Kolaborasi kampus dan industri diharapkan tidak hanya memperkuat daya saing sektor sawit nasional, tetapi juga menjadi model pengembangan riset dan inovasi Indonesia yang berkelanjutan.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *