
sawitsetara.co - BOGOR — Di tengah perdebatan panjang soal kelapa sawit, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Sudarsono Soedomo, memilih jalur yang tidak lazim: satire.
Melalui tulisan berjudul “Dialog Kesadaran Dua Butir Sawit”, Prof Sudarsono mengajak publik melihat ulang relasi sehari-hari mereka dengan komoditas yang kerap ditempatkan sebagai musuh ekologis itu.
Bukan dengan data tebal atau grafik produksi, melainkan lewat percakapan imajiner dua unsur sawit—yang satu berasal dari minyak goreng, yang lain dari lipstick.
Cerita itu dibuka dengan adegan familiar: seorang aktivis perempuan berorasi di atas panggung, menyerukan penghentian sawit. Retorikanya matang, pesannya tegas: deforestasi, keadilan ekologis, masa depan bumi. Tepuk tangan bergemuruh. Poster digulung. Kamera ponsel menyala.
Lalu adegan bergeser ke pinggir jalan. Pisang goreng hangat dibeli. Gigitan pertama terjadi. Dan di sanalah, dalam imajinasi Prof Sudarsono, dua “butir sawit” bertemu—sawit dalam minyak goreng dan sawit dalam lipstick.
“Manusia bisa membenci sesuatu sambil menggunakannya setiap hari,” demikian salah satu dialog dalam cerita tersebut.
Prof Sudarsono menegaskan, tulisannya bukan serangan terhadap gerakan lingkungan. “Kepedulian tetap penting. Kritik tetap perlu. Tetapi realitas konsumsi kita jauh lebih kompleks daripada slogan,” ujarnya, dikutip pada Jumat (20/2/2026).
Menurut dia, sawit telah menjadi bagian dari sistem produksi dan konsumsi modern yang sulit dilepaskan begitu saja. Turunannya hadir dalam sabun mandi, sampo, deterjen, biskuit, cokelat, hingga produk kosmetik. Masyarakat sering mengkritik di ruang publik, tapi lupa bercermin di dapur dan kamar mandi sendiri.
Ia melihat kecenderungan penyederhanaan persoalan sawit menjadi hitam-putih. Di satu sisi, sawit diposisikan sebagai biang keladi kerusakan hutan. Di sisi lain, jutaan petani dan pekerja menggantungkan hidup pada komoditas tersebut. Kata dia, persoalan lingkungan dan ekonomi tidak pernah sesederhana narasi tunggal.
Dalam tulisannya, Prof Sudarsono juga menyelipkan ironi: kedua unsur sawit itu sama-sama “pernah menempel di bibir wanita cantik” dan sama-sama “dibenci oleh orang yang sama.” Humor halus itu, menurut dia, dimaksudkan untuk menggugah, bukan mengejek.
“Satire adalah cara untuk membuka ruang refleksi tanpa menggurui,” kata Prof Sudarsono.
Ia berharap publik lebih jujur melihat keterlibatan mereka sendiri dalam rantai konsumsi global sebelum melontarkan vonis mutlak. Baginya, perdebatan tentang sawit semestinya diarahkan pada tata kelola yang lebih baik—perbaikan praktik budidaya, perlindungan hutan primer, peningkatan produktivitas lahan eksisting, dan transparansi rantai pasok.
“Bukan sekadar saling menuding,” ujarnya.
Tulisan itu ditutup dengan gambaran dua butir sawit yang “menertawakan kita dengan ramah.” Sebuah penutup yang ringan, tetapi menyimpan pesan serius: dialog paling jujur mungkin bukan terjadi di podium, melainkan dalam kebiasaan sehari-hari yang jarang dipersoalkan.
Di ujung gigitan pisang goreng, Prof Sudarsono seperti hendak berkata: sebelum berteriak terlalu keras, periksa dulu cermin.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *