KONSULTASI
Logo

Sawit Indonesia Masih Price Taker, Agus Pakpahan Tawarkan Model Koperasi Kuantum

28 Januari 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
Sawit Indonesia Masih Price Taker, Agus Pakpahan Tawarkan Model Koperasi Kuantum
HOT NEWS

sawitsetara.co - JAKARTA — Setelah berabad-abad terjebak sebagai pemasok bahan mentah dunia, Indonesia dinilai memiliki peluang historis untuk keluar dari perangkap komoditas global. Kuncinya bukan sekadar hilirisasi industri, melainkan transformasi sistemik berbasis koperasi yang terintegrasi dari desa hingga pasar dunia.

Pandangan itu disampaikan Prof. Agus Pakpahan, pakar ekonomi pertanian Indonesia, dalam esai “Memutus Perangkap Komoditas: Dari Price Taker ke System Shaper” edisi 28 Januari 2026. Esai ini lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang kontinuitas posisi Indonesia sebagai periphery supplier sejak era rempah hingga sawit.

“Masalah Indonesia bkan kurang produksi, tapi terlalu lama berada di sisi yang salah dalam sistem dunia,” kata Agus. “Kita selalu kuat di hulu, tapi lemah dalam menentukan nilai dan aturan main.”

Sawit Setara Default Ad Banner

Empat Level Transformasi

Dalam esainya, Agus mengajukan konsep Koperasi Kuantum, sebuah strategi berjenjang untuk mengangkat posisi Indonesia dari price taker menjadi system shaper bioekonomi tropis. Strategi ini bekerja simultan di empat level: lokal, regional, nasional, dan global.

Di tingkat lokal, Agus menunjuk Credit Union Keling Kumang (CUKK) di Kalimantan Barat sebagai bukti konsep. Berdiri pada 1993 dengan 12 anggota dan modal Rp 291 ribu, CUKK kini memiliki lebih dari 232 ribu anggota, aset Rp 2,3 triliun, serta ekosistem usaha dari keuangan, pendidikan, hingga agrowisata.

“CUKK membuktikan bahwa petani bisa keluar dari jebakan price taker kalau mereka terkonsolidasi secara kolektif,” ujar Agus. “Transformasi tidak dimulai dari pusat kekuasaan, tapi dari komunitas.”

Menurut Agus, fragmentasi produksi adalah akar lemahnya posisi Indonesia. Sekitar 2,6 juta petani kecil mengelola 42 persen kebun sawit nasional, namun bergerak sendiri-sendiri tanpa kendali atas teknologi, pembiayaan, dan pasar.

Untuk itu, ia mengusulkan pembentukan jaringan koperasi antar-sentra produksi di level regional—menghubungkan koperasi sawit, kopi, kakao, dan karet lintas provinsi. Jaringan ini menjadi fondasi skala ekonomi dan daya tawar kolektif.

“Kita tidak bisa lompat ke level global kalau fondasi regionalnya rapuh,” kata Agus.

Sawit Setara Default Ad Banner

Pada level nasional, Agus mendorong pembangunan Sistem Koperasi Kuantum Digital Terintegrasi. Platform ini akan menghubungkan identitas digital petani, data produksi nasional, dana riset kolektif, hingga standar keberlanjutan Indonesia.

“Data adalah kekuasaan baru,” ujar Agus. “Selama data produksi kita tersebar dan dibaca pihak luar, kita akan terus mengikuti harga mereka.”

Ia menyebut sistem ini sebagai bentuk triple helix versi Indonesia: koperasi sebagai pelaku usaha, perguruan tinggi sebagai pusat pengetahuan, dan negara sebagai penjamin kebijakan.

Target akhirnya adalah perubahan posisi Indonesia di level global. Dengan data dan konsolidasi nasional, Indonesia dinilai berpeluang menciptakan Indonesian Palm Oil Index sebagai alternatif acuan harga global, sekaligus menjadi penentu standar bioekonomi tropis berkelanjutan.

“Kalau Eropa bisa menetapkan standar untuk produk temperat, mengapa Indonesia tidak bisa memimpin standar produk tropis?” ujar Agus.

Ia menekankan bahwa Indonesia seharusnya mengekspor solusi—paket sistem koperasi, teknologi, dan sertifikasi—bukan sekadar komoditas mentah.

Sawit Setara Default Ad Banner

Jendela 44 Tahun

Agus menyebut Gelombang Kondratieff VI—yang ditandai bioekonomi, digitalisasi, dan ekonomi sirkular—sebagai critical juncture bagi Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki waktu sekitar 44 tahun hingga 2070 untuk mengeksekusi strategi ini secara konsisten.

“Sejarah 1.100 tahun menunjukkan pola, bukan takdir,” kata Agus. “CUKK sudah membuktikan bahwa pola itu bisa diputus.”

Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan pada konsep, melainkan pada kemauan politik dan konsistensi kebijakan. “Pertanyaannya sekarang sederhana,” ujarnya. “Apakah kita mau mereplikasi keberhasilan Tapang Sambas ke seluruh Nusantara?”

Jika berhasil, Agus meyakini Indonesia tidak lagi dikenal sebagai Raja Sawit. “Kita bisa menjadi arsitek bioekonomi tropis berkelanjutan dunia,” katanya.


Berita Sebelumnya
Seri I Perkelapasawitan Indonesia: Asal-Usul, Perkembangan, dan Dampaknya terhadap Perubahan Tata Ruang Wilayah

Seri I Perkelapasawitan Indonesia: Asal-Usul, Perkembangan, dan Dampaknya terhadap Perubahan Tata Ruang Wilayah

Kelapa sawit telah menjadi salah satu komoditas paling menentukan dalam perjalanan ekonomi Indonesia kontemporer. Ia hadir bukan hanya sebagai sumber devisa dan penggerak ekspor, tetapi juga sebagai kekuatan yang membentuk ulang struktur agraria, tata ruang wilayah, hubungan sosial pedesaan, dan arah pembangunan nasional.

| Edukasi

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *