
sawitsetara.co – YOGYAKARTA – Berawal tanpa modal, relasi, dan pengalaman bisnis, usaha batik berbasis sawit yang dirintis Miftahudin Ihsan kini berkembang menjadi produk premium bernilai jutaan rupiah dan mulai menembus pasar internasional.
Kisah tersebut dibagikan dalam Talkshow Sesi I bertema “Success Story Membangun UMKM Sawit” pada Workshop Gen-Z Preneur UMKM Sawit “Rintisan Wirausaha Perkebunan dan Oleofood” di Gedung AKPY STIPER, Sleman. Acara tersebut diselenggarakan Majalah Sawit Indonesia dengan dukungan BPDP, AKPY STIPER dan GAPKI.
Pendiri CV Smart Batik, Miftahudin Ihsan, mengatakan dirinya memulai usaha dari nol saat masih berstatus mahasiswa Pendidikan Kimia Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Saat itu, ia mengandalkan beasiswa pendidikan untuk bisa melanjutkan kuliah.
“Kami merintis tanpa modal, relasi, dan ilmu bisnis. Saya bisa kuliah pakai beasiswa, dulu Bidikmisi sekarang KIP. Saya berharap temen-temen jangan sampai putus kuliah, karena beasiswa cukup banyak,” ujar Miftahudin.
Miftahudin menilai tantangan generasi muda saat ini semakin berat karena lapangan pekerjaan yang terbatas. Karena itu, mahasiswa didorong untuk aktif mengembangkan kemampuan di luar akademik. “Jangan kuliah pulang saja, rugi sendiri. Yang dipakai itu skill organisasi dan kemampuan memecahkan masalah,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Miftahudin juga membagikan pentingnya memiliki target hidup dan usaha. Ia mengaku terbiasa menuliskan target setiap awal tahun dan berusaha mewujudkannya secara bertahap. “Dulu saya ingin menang lomba lomba karya ilmiah, akhirnya bisa 14 kali juara. Ingin ke luar negeri juga terwujud. Kemarin saya dari Thailand dan China mempromosikan batik sawit,” ungkapnya.
Meski Yogyakarta bukan daerah penghasil sawit, menurutnya sumber daya manusia di daerah tersebut mampu mengembangkan produk turunan sawit bernilai tinggi. Bahkan, paguyuban batik sawit saat ini berada di Yogyakarta dan telah memiliki legalitas dari Disperindag DIY.
Miftahudin menjelaskan, kunci utama dalam berwirausaha adalah melihat peluang, menghadirkan inovasi, dan menghasilkan keuntungan. “Saya melihat ada 16 juta orang yang terlibat di sawit, itu market besar. Lalu kita harus punya inovasi dan akhirnya mendapatkan profit,” jelas Miftahudin.
Miftahudin memilih mengembangkan usaha batik bukan karena memiliki kemampuan membatik sejak awal, melainkan karena melihat identitas Yogyakarta yang lekat dengan budaya batik. Dengan modal terbatas, ia berkeliling sentra batik di Yogyakarta untuk meminjam produk dari para pengrajin.

“Awalnya pinjam lima potong, lama-lama jadi sekarung. Pasar pertama saya dosen UNY,” kata Miftahudin.
Namun Miftahudin menyadari pola bisnis tersebut tidak akan bertahan lama jika hanya mengandalkan rasa iba konsumen. Karena itu, ia mulai menciptakan inovasi motif batik bertema matematika, fisika, dan sains dalam bentuk tradisional.
Perjalanan inovasinya terus berkembang hingga pada 2023 mulai mengembangkan batik sawit. Menurutnya, bahan malam batik yang digunakan berasal dari turunan sawit berupa stearin yang lebih ramah lingkungan. “Kalau batik biasa harganya sekitar Rp150 ribu, batik sawit bisa mencapai Rp1,5 juta per potong,” ujar Miftahudin.
Kini, usaha yang dirintisnya telah memiliki sekitar 70 pekerja. Ia mengakui perkembangan Smart Batik tidak lepas dari dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan promosi dari Majalah Sawit Indonesia.
“Ada BPDP yang selalu mendukung. Majalah Sawit Indonesia juga sering mengangkat kisah kami. Adik-adik juga bisa membuat produk berbasis sawit sehingga bisa didukung BPDP,” kata Miftahudin.

Menurut Miftahudin, produk berbasis sawit memiliki nilai lebih karena membawa cerita tentang keberlanjutan dan penggunaan bahan yang lebih ramah lingkungan dibandingkan produk berbasis minyak bumi. “Dengan produk ini kita punya cerita bahwa ini lebih ramah lingkungan, sustain, dan bisa mensubstitusi minyak bumi,” ujar Miftahudin.
Produk Smart Batik kini telah digunakan sejumlah artis, menteri, wakil menteri, hingga Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Smart Batik juga meraih penghargaan industri halal dari Kementerian Perindustrian dan penghargaan Tokoh Inovator Sawit dari Majalah Sawit Indonesia. “Kalau punya inovasi, penghargaan itu akan datang sendiri. Baru-baru ini saya bertemu dengan Presiden Prabowo dan beliau mendukung kami dengan difasilitasi di berbagai pameran,” katanya.
Ke depan, Smart Batik menargetkan ekspansi pasar internasional. Ia menyebut sejumlah pihak, termasuk KJRI Pakistan, telah membantu membuka akses pasar luar negeri. “Tahun ini kami fokus masuk pasar internasional, termasuk China dan Jepang,” pungkas Miftahudin.



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *