KONSULTASI
Logo

SMK Kelapa Sawit Arsya Ganeeta Indonesia Laksanakan UKK Sertifikasi Mandor Besar

14 April 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
SMK Kelapa Sawit Arsya Ganeeta Indonesia Laksanakan UKK Sertifikasi Mandor Besar

sawitsetara.co - PANGKALAN KERINCI — Sebanyak 20 siswa SMK Kelapa Sawit Arsya Ganeeta Indonesia (AGI) mengikuti Ujian Kompetensi Keahlian (UKK) Agribisnis Tanaman Perkebunan Terintegrasi dengan skema sertifikasi Mandor Besar pada Senin (13/4/2026). Kegiatan ini menjadi bagian memastikan kesiapan lulusan menghadapi dunia kerja, khususnya di sektor perkebunan kelapa sawit.

Pelaksanaan UKK menghadirkan asesor profesional dari LSP Pertanian Presisi, yakni Dr. Ir. Eko Murnianto, M.P., dan Dr. Mulono Aprianto, S.T., MP, yang melakukan penilaian langsung terhadap kemampuan siswa. Uji kompetensi ini tidak hanya mengukur keterampilan teknis, tetapi juga menjadi indikator kesesuaian antara pembelajaran di sekolah dengan kebutuhan industri.

Sawit Setara Default Ad Banner

Kepala SMK Kelapa Sawit AGI, Rosalinda S.Pd, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen sekolah dalam mencetak lulusan siap kerja yang memiliki pengakuan kompetensi secara resmi.

“Kegiatan uji kompetensi ini memberikan keyakinan bahwa lulusan sudah siap bekerja di Industri terutama bidang kelapa sawit sesuai dengan tujuan pendidikan vokasi yang ada di SMK,” ujarnya.

Selain ijazah, siswa juga dibekali sertifikat kompetensi pada level Mandor Besar sebagai nilai tambah saat memasuki dunia kerja. Sertifikat ini menjadi bukti bahwa lulusan memiliki keahlian yang diakui secara profesional, terutama di sektor unggulan seperti perkebunan sawit di Provinsi Riau.

Sementara itu, Dr. Mulono Aprianto menekankan bahwa sertifikasi kompetensi memiliki peran strategis sebagai bekal utama bagi siswa sebelum terjun ke dunia kerja. Sertifikat kompetensi, menurutnya, bukan sekadar pelengkap ijazah, melainkan bentuk pengakuan resmi atas kemampuan seseorang.

“Manfaat untuk siswa itu adalah sebagai pembekalan dia dalam menempuh dunia kerja,” kata Kepala Program Studi Magister Ilmu Pertanian Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning ini.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan sertifikat pendamping ijazah menjadi bukti konkret bahwa lulusan memiliki kompetensi di bidang tertentu, sehingga meningkatkan daya saing saat memasuki pasar kerja, baik bagi lulusan baru maupun tenaga kerja berpengalaman.

Mulono juga menambahkan bahwa pentingnya sertifikasi tidak hanya berlaku bagi siswa, tetapi juga bagi tenaga kerja dan tenaga pendidik. Guru dan dosen, menurutnya, perlu memiliki sertifikasi agar mampu memberikan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan industri.

“Jadi sejauh mana sertifikat kompetensi itu penting, sertifikat kompetensi itu saat ini sangat penting dan sangat dibutuhkan untuk dunia kerja sebagai pengakuan bahwa orang tersebut yang memegang sertifikat tersebut sangat kompeten di bidangnya,” tegasnya.

Sawit Setara Default Ad Banner

Di sisi lain, Dr. Eko Murnianto, yang merupakan Direktur LSP Pertanian Presisi, menjelaskan bahwa tantangan dalam uji kompetensi di lapangan dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian utama, yakni kesiapan sumber daya manusia (peserta), tempat uji kompetensi, serta pelaksanaan teknis di lapangan.

Menurutnya, salah satu persoalan yang kerap muncul adalah belum selarasnya materi pembelajaran di sekolah dengan unit kompetensi yang diujikan

“Tentangan yang dihadapi dalam uji kompetensi atau sertifikasi kompetensi di lapangan itu kita kelompokkan menjadi tiga ya. Yang pertama adalah soal SDM-nya sendiri atau peserta,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa proses pembelajaran di sekolah perlu disesuaikan atau “dimatching-kan” dengan standar kompetensi agar siswa lebih siap saat menghadapi uji sertifikasi.

Selain itu, faktor tempat uji kompetensi juga menjadi perhatian. Perbedaan antara tempat uji mandiri dan sewaktu kerap memunculkan kendala teknis, seperti keterbatasan fasilitas hingga hambatan komunikasi di lapangan. Meski demikian, ia menilai kendala tersebut umumnya masih bersifat minor dan dapat diatasi.

Dalam aspek pelaksanaan, Eko juga menyoroti kondisi psikologis peserta. Ia menyebutkan bahwa tidak sedikit siswa yang mengalami demam panggung saat berhadapan dengan asesor, meskipun sebenarnya memiliki kemampuan yang memadai.

“Tapi peserta bertemu dengan asesor itu ada demam panggung. Ada kalanya ada demam panggung. Tapi karena asesor itu memiliki metodologi yang memang sudah diajarkan oleh para master-master asesor, maka pendekatan yang kita lakukan untuk menggali kompetensi dari seseorang itu tidak kurang cara,” jelasnya.


Berita Sebelumnya
Pengurus Kelembagaan Pekebun Sawit Bisa Kuliah Gratis Lewat Beasiswa, Ini Syaratnya

Pengurus Kelembagaan Pekebun Sawit Bisa Kuliah Gratis Lewat Beasiswa, Ini Syaratnya

Sasaran penerima meliputi pekebun dan keluarga, karyawan atau pekerja perkebunan beserta keluarga, pengurus kelembagaan atau asosiasi pekebun, hingga aparatur sipil negara (ASN) dan penyuluh di sektor sawit.

13 April 2026Edukasi

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *