KONSULTASI
Logo

Wamendag Roro: CPO Jadi Penopang Perdagangan Berjangka Komoditi

5 Januari 2026
AuthorIbnu
EditorIbnu
Wamendag Roro: CPO Jadi Penopang Perdagangan Berjangka Komoditi
HOT NEWS

sawitsetara.co – JAKARTA – Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti, menilai crude palm oil (CPO) dan REC menjadi komoditas utama yang patut didorong pada perdagangan berjangka komoditi (PBK) 2026. Ia menyampaikan, nilai ekspor CPO Indonesia telah mencapai US$ 28,37 miliar, yang menunjukkan kontribusi signifikan dari salah satu komoditas unggulan nasional tersebut.

Selain itu, REC juga menjadi instrumen penting ke depan. Menurut Roro, REC merupakan terobosan krusial karena semakin banyak pasar internasional yang mensyaratkan aspek ekonomi hijau dan keberlanjutan lingkungan dalam aktivitas perdagangan.“Maka hal-hal seperti inilah kita persiapkan. Dan tentunya kerja sama lintas stakeholder itu sangat-sangat penting dalam hal ini. Tapi kalau dari segi target (untuk CPO dan REC) tentu kita berharap bahwa ini akan semakin meningkat dengan berjalannya waktu,” ucap Roro, dalam keterangan tertulis, senin (5/1/2026).


Sawit Setara Default Ad Banner

Sementara Presiden Direktur Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Nursalam, menjelaskan bahwa bursa bersama pelaku pasar dan Bappebti terus berupaya meningkatkan volume dan nilai perdagangan CPO, meskipun capaian saat ini belum sepenuhnya sesuai harapan.“Bahkan per hari ini member kami sudah 58 perusahaan CPO terbesar yang ada di Indonesia. Jadi mudah-mudahan. Saya yakin optimis pasti akan meningkat,” kata Nursalam.

Di tahun ini Kementerian Perdagangan (Kemendag) menaruh harapan besar, perdagangan bisa tumbuh lebih baik dibandingkan tahun lalu. Dimana nilai transaksi secara keseluruhan mencapai Rp 42.867 triliun sepanjang 2025, meningkat 49,8% secara tahunan atau year on year (yoy).“Dari keseluruhan nilai transaksi tersebut, kontrak berjangka berbasis komoditi berkontribusi sebesar 89,48%,” kata Kepala Bappebti, Tirta Karma Senjaya di Jakarta.

Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappeti) juga menyebutkan, volume transaksi PBK mencapai 14,56 juta lot atau tumbuh 12% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selain itu, Tirta menyampaikan perdagangan fisik timah murni batangan ekspor sepanjang Januari hingga 15 Desember 2025 mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp 26,98 triliun dengan volume 9.830 lot.


Sawit Setara Default Ad Banner

Sementara itu, transaksi pasar fisik emas digital pada periode Januari hingga pertengahan Desember 2025 mencapai Rp 107,43 triliun dengan volume sebesar 55,58 metrik ton.“Sedangkan untuk perdagangan kontrak berjangka CPO (crude palm oil) yang tercatat memiliki nilai transaksi national value sebesar Rp 2,69 triliun dengan besaran volume transaksi sebesar 30,341 lot,” lanjut Tirta.

Tirta melanjutkan, kontrak syariah murabahah memiliki nilai transaksi yang mencapai Rp 693,47 miliar dengan volume 415.986,7 blue barrel sepanjang Januari hingga 15 Desember 2025. Sementara itu, transaksi kontrak berjangka branded crude oil mencatatkan nilai Rp 3,14 miliar dengan volume 30 lot, dan perdagangan Renewable Energy Certificate (REC) mencatatkan nilai transaksi Rp 1,84 miliar dengan volume 44.495 lot.“Melalui perdagangan REC ini kami berharap instrumen ini dapat mengoptimalisasi upaya perdagangan hijau dalam mendukung upaya kita semua untuk keberlanjutan ekosistem,” ucap Tirta.



Berita Sebelumnya
GAPKI Soroti Lambatnya PSR dan Dampak Kebijakan B50 terhadap Ekspor maupun Harga Minyak Goreng

GAPKI Soroti Lambatnya PSR dan Dampak Kebijakan B50 terhadap Ekspor maupun Harga Minyak Goreng

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono menyampaikan pandangannya terkait sejumlah isu krusial dalam industri kelapa sawit. Mulai dari lambatnya peremajaan sawit rakyat (PSR) hingga potensi dampak kebijakan B50 terhadap ekspor dan harga minyak goreng dalam negeri.

| Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *