
sawitsetara.co - JAKARTA – Selama bertahun-tahun, pengendalian hama di perkebunan kelapa sawit bertumpu pada pestisida kimia. Cara ini cepat dan praktis. Namun dampaknya tidak sederhana. Penggunaan yang berlebihan menekan keanekaragaman hayati, merusak keseimbangan ekosistem, dan memicu resistensi hama.
Di banyak perkebunan sawit, Ulat Pemakan Daun Kelapa Sawit (UPDKS)—terutama ulat api dan ulat kantong—menjadi ancaman utama. Saat populasinya meningkat, daun habis dimakan. Proses fotosintesis terganggu. Produksi tandan buah segar pun menurun.

Dalam situasi seperti itu, pendekatan lain mulai dipertimbangkan. Pengendalian Hama Terpadu (PHT) menawarkan jalan berbeda. Prinsipnya sederhana: memperkuat ekosistem agar mampu menekan hama secara alami. Salah satu caranya dengan memanfaatkan musuh alami, seperti predator dan parasitoid.
Parasitoid hidup sementara di tubuh inangnya dan membunuhnya secara perlahan. Predator memangsa hama secara langsung. Di perkebunan sawit Kalimantan, parasitoid dari famili Braconidae, Eulophidae, dan Tachinidae diketahui berasosiasi dengan hama daun. Namun keberadaan mereka sangat bergantung pada kondisi lingkungan. Tanpa habitat dan sumber pakan, musuh alami sulit bertahan.
Tanaman Kecil, Peran Besar
Di sinilah Turnera subulata berperan. Tanaman berbunga kuning cerah ini dikenal dengan nama bunga pukul delapan atau bunga pukul sembilan. Di luar kebun sawit, ia kerap dianggap tanaman liar. Di dalam kebun, fungsinya jauh lebih penting.
Turnera subulata berperan sebagai tanaman refugia. Ia menyediakan nektar, serbuk sari, serta ruang berlindung bagi predator dan parasitoid. Beberapa predator yang kerap ditemukan pada tanaman ini antara lain Eocanthecona furcellata dan Sycanus leucomesus. Parasitoid seperti Brachimeria lasus dan Apanteles aluella juga memanfaatkannya sebagai inang.
Bagi predator, tanaman berbunga bukan sekadar pelengkap. Ia menjadi tempat singgah, lokasi meletakkan telur, sekaligus perlindungan dari gangguan lingkungan. Tanpa tanaman seperti Turnera subulata, siklus hidup musuh alami mudah terputus.

Bukti dari Lapangan
Manfaat Turnera subulata tidak hanya bersifat teoritis. Penelitian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda pada 2021 menunjukkan perbedaan mencolok antara blok kebun yang ditanami Turnera subulata dan yang tidak.
Pada blok tanpa tanaman refugia, serangan ulat api tergolong tinggi. Serangan kategori berat mencapai lebih dari 80 persen tanaman. Serangan ringan dan sedang juga ditemukan dalam jumlah signifikan. Kondisi ini berpotensi menurunkan produktivitas kebun secara drastis.
Sebaliknya, pada blok yang ditanami Turnera subulata, serangan ulat api jauh lebih rendah. Serangan hanya ditemukan dalam kategori ringan, dengan persentase di bawah 5 persen. Tidak ditemukan serangan sedang maupun berat.

Perbedaan ini menunjukkan peran musuh alami dalam menekan populasi hama. Keberadaan tanaman inang memungkinkan predator berkembang. Tanpa tekanan predator, ulat api berkembang lebih cepat dan merusak lebih luas.
Populasi Predator yang Rapuh
Meski efektif, pengendalian hayati di lapangan belum sepenuhnya optimal. Di sejumlah blok pengamatan, populasi kumbang predator musuh alami ulat api masih sangat rendah. Dalam beberapa plot, hanya ditemukan satu ekor predator.
Penyebabnya berlapis. Penyebaran Turnera subulata belum merata di setiap blok kebun. Area konservasi khusus untuk tanaman refugia dan musuh alami belum tersedia. Di saat yang sama, penggunaan insektisida kimia turut menekan populasi predator.
Insektisida bekerja tanpa pandang bulu. Ia membunuh hama sasaran, tetapi juga mematikan musuh alaminya. Dalam jangka panjang, cara ini justru melemahkan sistem pengendalian alami. Masalah hama tidak selesai, hanya bergeser.
Fenomena ini bukan hal baru. Penggunaan insektisida yang tidak bijaksana telah lama diketahui memicu resistensi dan resurgensi hama. Alih-alih berkurang, serangan hama justru kembali dengan intensitas lebih tinggi.

Dua Cara, Satu Tujuan
Di lapangan, pengendalian hama ulat api umumnya dilakukan melalui dua pendekatan. Pengendalian hayati ditempatkan sebagai langkah awal. Turnera subulata ditanam untuk mencegah ledakan populasi hama sejak dini.
Pengendalian kimia diterapkan sebagai opsi terakhir. Cara ini dilakukan apabila populasi ulat api telah melampaui ambang batas ekonomi dan pengendalian hayati tidak lagi mampu menahan lonjakan.
Masalahnya, belum semua blok kebun ditanami Turnera subulata. Ketimpangan ini membuka celah bagi ulat api untuk tetap berkembang di area tertentu. Selama habitat musuh alami tidak tersedia secara merata, pengendalian hayati sulit bekerja maksimal.

Menata Ulang Ekosistem Kebun
Turnera subulata bukan solusi tunggal. Namun ia menawarkan pendekatan yang lebih berkelanjutan. Tanaman ini mudah dirawat, tahan terhadap kondisi kering, dan tidak membutuhkan biaya besar.
Lebih dari itu, kehadirannya meningkatkan keanekaragaman hayati kebun. Ekosistem yang lebih beragam cenderung lebih stabil. Hama tidak mudah meledak. Ketergantungan pada insektisida dapat ditekan.
Pengendalian hama tidak selalu harus dimulai dari botol pestisida. Dalam banyak kasus, ia bisa dimulai dari keputusan sederhana: memberi ruang bagi alam untuk bekerja.
Di kebun sawit, keputusan itu bisa berupa menanam bunga kecil berwarna kuning. Diam-diam, Turnera subulata bekerja menahan laju ulat api—tanpa suara, tanpa residu, dan tanpa merusak lingkungan.
Tags:



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *