KONSULTASI
Logo

Ekspor Sawit Juli Turun 2,67 Persen, Konsumsi Biodiesel Tembus 1,28 Juta Ton

30 September 2026
AuthorIbnu
EditorHendrik Khoirul
Ekspor Sawit Juli Turun 2,67 Persen, Konsumsi Biodiesel Tembus 1,28 Juta Ton

sawitsetara.co - JAKARTA — Kinerja industri sawit nasional pada Juli 2026 menunjukkan pergeseran antara pasar ekspor dan konsumsi domestik. Volume ekspor produk sawit turun 2,67 persen dibandingkan bulan sebelumnya, sementara konsumsi dalam negeri meningkat 3,35 persen. Kenaikan konsumsi terutama didorong sektor biodiesel.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat volume ekspor produk sawit pada Juli 2026 sebesar 3.188 ribu ton. Angka tersebut turun dari 3.275 ribu ton pada Juni 2026.

Penurunan terutama terjadi pada ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Volume ekspor CPO pada Juli tercatat 249 ribu ton, turun 25,70 persen dibandingkan Juni yang mencapai 335 ribu ton.

Ekspor produk olahan minyak sawit juga turun 2,57 persen menjadi 2.296 ribu ton dari sebelumnya 2.357 ribu ton. Sementara ekspor produk olahan minyak inti sawit turun 14,60 persen menjadi 99 ribu ton dari 116 ribu ton.

Di tengah penurunan tersebut, ekspor oleokimia justru meningkat 14,94 persen. Volumenya mencapai 537 ribu ton pada Juli, naik dari 467 ribu ton pada Juni.

Secara kumulatif, volume ekspor produk sawit sepanjang Januari–Juli 2026 mencapai 19.782 ribu ton. Angka ini meningkat 2,91 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 19.223 ribu ton.

Dari sisi nilai, ekspor produk sawit pada Juli 2026 mencapai USD3,81 miliar. Nilai tersebut turun 2,89 persen dibandingkan Juni yang mencapai USD3,92 miliar.

Rata-rata harga ekspor CPO pada Juli juga sedikit melemah menjadi USD1.168 per ton dari USD1.174 per ton pada Juni atau turun 0,45 persen.

apkasindo

Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono mengatakan kinerja ekspor secara kumulatif masih menunjukkan pertumbuhan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Secara kumulatif Januari–Juli 2026, nilai ekspor mencapai USD23,26 miliar, lebih tinggi 10,92 persen dari tahun 2025 sebesar USD20,97 miliar,” ungkap Mukti Sardjono, Selasa (29/9/2026).

Rata-rata harga ekspor CPO selama Januari–Juli 2026 mencapai USD1.137 per ton. Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata pada periode yang sama 2025 sebesar USD1.075 per ton.

China Jadi Salah Satu Pasar yang Menguat

Berdasarkan negara tujuan, perubahan ekspor pada Juli 2026 cukup beragam. Sejumlah pasar mencatat kenaikan dibandingkan Juni, sedangkan beberapa negara tujuan utama lainnya mengalami penurunan.

Kenaikan ekspor pada Juli terjadi ke sejumlah kawasan dan negara berikut:

- Uni Eropa 27 negara (EU 27) naik 104 ribu ton atau 40 persen.

- Afrika naik 61 ribu ton atau 17 persen.

- Amerika Serikat naik 44 ribu ton atau 20 persen.

- China naik 25 ribu ton atau 4 persen.

Sebaliknya, ekspor mengalami penurunan ke beberapa negara:

- India turun 81 ribu ton atau 20 persen.

- Rusia turun 69 ribu ton atau 69 persen.

- Malaysia turun 69 ribu ton atau 32 persen.

- Pakistan turun 47 ribu ton atau 17 persen.

- Bangladesh turun 35 ribu ton atau 21 persen.

Jika dilihat secara kumulatif Januari–Juli 2026, China mencatat kenaikan ekspor produk sawit sebesar 30 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Kenaikan kumulatif juga terjadi untuk Malaysia sebesar 14 persen, Afrika 5 persen, EU 27 sebesar 4 persen, dan Rusia 2 persen.

Sementara itu, ekspor secara kumulatif ke sejumlah pasar mengalami penurunan. India turun 20 persen, Pakistan 13 persen, Amerika Serikat 4 persen, dan Bangladesh 3 persen dibandingkan periode Januari–Juli 2025.

apkasindo

Produksi Sawit Meningkat

Di sisi produksi, industri sawit mencatat pertumbuhan pada Juli. Produksi CPO mencapai 4.904 ribu ton, naik 1,68 persen dibandingkan Juni yang sebesar 4.823 ribu ton. Produksi palm kernel oil (PKO) juga meningkat dari 449 ribu ton menjadi 466 ribu ton.

Dengan demikian, produksi gabungan CPO dan PKO pada Juli 2026 mencapai 5.370 ribu ton. Angka tersebut naik 1,87 persen dibandingkan Juni sebesar 5.272 ribu ton. Secara kumulatif Januari–Juli 2026, produksi CPO dan PKO mencapai 35.654 ribu ton. Jumlah tersebut meningkat 6,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 33.495 ribu ton.

Pertumbuhan produksi tersebut berlangsung bersamaan dengan meningkatnya penyerapan sawit di dalam negeri.

GAPKI mencatat konsumsi domestik pada Juli 2026 mencapai 2.275 ribu ton. Angka itu naik 3,35 persen dari 2.201 ribu ton pada Juni. Kenaikan terutama berasal dari sektor biodiesel. Konsumsi sawit untuk biodiesel mencapai 1.285 ribu ton pada Juli, meningkat 13,59 persen dibandingkan Juni yang sebesar 1.131 ribu ton.

Sementara itu, konsumsi untuk pangan justru turun 8,31 persen menjadi 805 ribu ton dari 878 ribu ton. Konsumsi oleokimia juga turun 3,65 persen menjadi 185 ribu ton dari 192 ribu ton. Sepanjang Januari–Juli 2026, konsumsi domestik tercatat 15.219 ribu ton. Jumlah tersebut naik 6,38 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 14.306 ribu ton.

Stok Akhir Juli Naik

Kombinasi produksi, ekspor, konsumsi domestik, dan impor membuat posisi stok sawit nasional pada akhir Juli 2026 meningkat. GAPKI mencatat stok awal tahun sebesar 2.068 ribu ton. Selama Januari–Juli 2026, total produksi mencapai 35.435 ribu ton, konsumsi dalam negeri 15.219 ribu ton, ekspor 19.782 ribu ton, serta impor 38 ribu ton. Dengan komponen tersebut, stok akhir produk sawit pada Juli 2026 tercatat sebesar 2.758 ribu ton.

Data tersebut menunjukkan bahwa sepanjang tujuh bulan pertama 2026, pertumbuhan produksi dan konsumsi domestik berjalan beriringan dengan ekspor yang secara volume masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Khusus Juli, pelemahan ekspor terjadi ketika konsumsi domestik meningkat. Kenaikan konsumsi tersebut terutama ditopang oleh sektor biodiesel yang menyerap 1.285 ribu ton produk sawit pada bulan tersebut.

Tags:

B50Berita Sawit

Berita Sebelumnya
Bukan Sekadar Menabur Pupuk, Ini Kunci Pemupukan Sawit yang Tepat

Bukan Sekadar Menabur Pupuk, Ini Kunci Pemupukan Sawit yang Tepat

Pemupukan kelapa sawit tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya pupuk yang diberikan. Jenis, dosis, waktu, cara aplikasi, kondisi tanah, umur tanaman, hingga target produksi perlu menjadi pertimbangan agar unsur hara yang diberikan benar-benar mendukung pertumbuhan dan produktivitas tanaman.

29 September 2026Edukasi

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *