KONSULTASI
Logo

Sawit Jadi Jawaban Pengangguran Desa, Serap Tenaga Kerja Tanpa Syarat Pendidikan Tinggi

18 Februari 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
Sawit Jadi Jawaban Pengangguran Desa, Serap Tenaga Kerja Tanpa Syarat Pendidikan Tinggi
HOT NEWS

sawitsetara.co - Industri perkebunan kelapa sawit kembali menegaskan perannya sebagai tulang punggung ekonomi pedesaan. Di tengah tantangan tingginya angka pengangguran di desa, sektor ini terbukti mampu menyerap tenaga kerja secara masif dan inklusif, terutama bagi masyarakat dengan latar belakang pendidikan terbatas.

Data yang dirilis oleh Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Selasa (17/2/2026), menunjukkan bahwa struktur tenaga kerja di perkebunan kelapa sawit selaras dengan profil pendidikan masyarakat pedesaan Indonesia. Fakta ini memperkuat posisi sawit sebagai sektor yang adaptif terhadap kondisi sosial di lapangan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, mayoritas tenaga kerja pedesaan memiliki tingkat pendidikan yang relatif terbatas. Sebanyak 39 persen merupakan lulusan Sekolah Dasar (SD) ke bawah, 46 persen lulusan SMA/SMK, dan hanya 15 persen yang berpendidikan Diploma maupun Sarjana.

Menariknya, komposisi tersebut hampir identik dengan struktur tenaga kerja di sektor perkebunan sawit. Rata-rata 50 persen pekerja di perkebunan berasal dari lulusan SD ke bawah, 46 persen lulusan SMA/SMK, dan hanya 4 persen lulusan Diploma atau Sarjana.


“Perkebunan kelapa sawit memberikan ruang yang luas bagi masyarakat berpendidikan rendah untuk memperoleh penghasilan stabil dan meningkatkan taraf hidup keluarga di pedesaan,” ujar analis PASPI.

puasa

Data ini sekaligus mematahkan anggapan bahwa industri sawit tidak sejalan dengan kualitas sumber daya manusia di desa. Justru sebaliknya, sektor ini menyesuaikan kebutuhan operasionalnya dengan profil tenaga kerja lokal tanpa menciptakan hambatan masuk yang tinggi.

Di banyak wilayah pelosok, keberadaan perkebunan sawit menjadi akses utama masyarakat untuk masuk ke aktivitas ekonomi produktif. Tanpa menuntut kualifikasi akademik tinggi, industri ini mampu menghadirkan lapangan kerja yang nyata dan berkelanjutan.

Strategi pembangunan ekonomi berbasis komoditas sawit pun dinilai efektif dalam mendorong pengentasan kemiskinan pedesaan. Selain menyerap tenaga kerja lokal, industri ini juga menjadi alternatif bagi masyarakat yang kesulitan menembus sektor formal perkotaan yang umumnya mensyaratkan keterampilan khusus dan pendidikan tinggi.

Dengan struktur serapan tenaga kerja yang inklusif dan adaptif terhadap realitas sosial pendidikan masyarakat Indonesia, industri kelapa sawit tidak hanya menjadi simbol kekuatan komoditas nasional, tetapi juga solusi konkret dalam membuka peluang kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Di tengah dinamika ekonomi nasional, sawit kembali membuktikan diri sebagai motor penggerak ekonomi rakyat dari akar rumput.


Berita Sebelumnya
MSPO Petani Swadaya Malaysia Tembus 85 Persen, Bagaimana dengan ISPO Indonesia?

MSPO Petani Swadaya Malaysia Tembus 85 Persen, Bagaimana dengan ISPO Indonesia?

Ketimpangan capaian sertifikasi keberlanjutan antara Malaysia dan Indonesia semakin terlihat, terutama di tingkat pekebun swadaya. Jika Malaysia telah mencatat 85 persen petani swadaya tersertifikasi, Indonesia masih berada di kisaran 1 persen.

17 Februari 2026 | Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *