KONSULTASI
Logo

Solidaridad Indonesia: Pemberdayaan Perempuan Kunci Sukses Industri Sawit Berkelanjutan dan Bebas Pekerja Anak

3 Desember 2025
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
Solidaridad Indonesia: Pemberdayaan Perempuan Kunci Sukses Industri Sawit Berkelanjutan dan Bebas Pekerja Anak
HOT NEWS

sawitsetara.co – JAKARTA – Solidaridad Indonesia menyatakan bahwa pemberdayaan perempuan di sektor kelapa sawit adalah strategi krusial untuk mencapai keberlanjutan dan memberantas pekerja anak.

Dalam keterangan tertulis kepada sawitsetara.co, organisasi ini menekankan, dengan memberdayakan petani dan pekerja perempuan, serta memastikan hak-hak mereka terpenuhi, industri sawit dapat meningkatkan produktivitas jangka panjang dan mencegah eksploitasi anak.

Data dari studi UNICEF (2016) dan PAACLA Indonesia (2024) menunjukkan bahwa formalisasi status pekerja perempuan, dari harian menjadi kontrak, adalah langkah paling efektif untuk memutus rantai pekerja anak.

"Kami percaya bahwa ketika perempuan memiliki akses yang setara terhadap sumber daya, hak, dan representasi/suara, stabilitas ekonomi keluarga akan meningkat, yang secara langsung menurunkan risiko anak-anak ikut bekerja di kebun sawit," ujar Edy Dwi Hartono, Senior Manager Agriculture Carbon Solidaridad Indonesia.

Puasa

Pernyataan ini disampaikan dalam diskusi media yang diselenggarakan oleh Forum Wartawan Pertanian (FORWATAN), di mana Solidaridad memperkenalkan program POWERRR (Palm Oil & Women’s Equity through Resources, Rights, and Representation) pada Selasa (2/12/2025).

Program ini bertujuan memberikan intervensi langsung kepada 3.500 perempuan di Kalimantan Timur, meliputi pelatihan GAP, literasi keuangan, K3, APD, dan hak-hak pekerja.

Isu pekerja anak di Indonesia masih menjadi tantangan besar, dengan 1,27 juta pekerja anak yang tersebar di wilayah pedesaan (BPS, 2024). Industri sawit seringkali menjadi sorotan, namun Solidaridad percaya bahwa peningkatan pendapatan dan akses pelatihan bagi perempuan melalui POWERRR dapat mengurangi risiko anak-anak bekerja.

Untuk memastikan penghapusan pekerja anak, Solidaridad mendorong penerapan Pedoman Sawit Indonesia Ramah Anak (SIRA) dan pergeseran pendekatan dari sanksi menjadi solusi pendidikan. Langkah strategis ini berpusat pada Jaringan Ketenagakerjaan untuk Sawit Berkelanjutan (JAGASAWITAN), yang bertujuan menciptakan praktik kerja layak di sektor sawit.

Puasa

Dalam kolaborasi JAGASAWITAN, serikat pekerja memainkan peran penting dalam mengawasi perlindungan anak, sementara perusahaan diharapkan menyediakan infrastruktur pendukung seperti Tempat Penitipan Anak (TPA). Edukasi kepada pekerja mengenai risiko fisik bagi anak di kebun juga menjadi kunci.

Model sinergi tripartit melalui JAGASAWITAN melibatkan GAPKI (sektor pengusaha), serikat pekerja (F-HUKATAN/JAPBUSI), dan Solidaridad (masyarakat sipil). Sinergi ini menekankan bahwa keberlanjutan sawit tidak dapat dicapai tanpa keadilan gender.

Forum diskusi yang melibatkan media nasional, GAPKI, Kementan, dan peneliti BRIN diharapkan dapat memperkuat komitmen perlindungan perempuan dan anak. Agenda ditutup dengan Deklarasi Komitmen Sawit Peduli, yang bertujuan menginspirasi praktik serupa di sektor lain dan menjadikan sawit Indonesia sebagai pemimpin global dalam praktik pertanian yang berpihak pada kesejahteraan manusia.


Berita Sebelumnya
Jufri Nur: Banjir Bandang Tak Hanya Karena Cuaca Ekstrem, Tapi Juga Penebangan Liar

Jufri Nur: Banjir Bandang Tak Hanya Karena Cuaca Ekstrem, Tapi Juga Penebangan Liar

Banjir bandang yang melanda Sumatera Barat telah menyebabkan kerugian besar bagi petani sawit di berbagai wilayah.

2 Desember 2025 | Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *