KONSULTASI
Logo

BPBD Balangan: Banjir Bandang di Tebing Tinggi Bukan karena Sawit, Tapi Hujan Ekstrem

16 Januari 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
BPBD Balangan: Banjir Bandang di Tebing Tinggi Bukan karena Sawit, Tapi Hujan Ekstrem
HOT NEWS

sawitsetara.co - BALANGAN – Banjir bandang yang menerjang Kecamatan Tebing Tinggi pada penghujung November tahun lalu datang tanpa ampun. Dalam hitungan jam, air sungai meluap, menghantam permukiman warga yang nyaris tak sempat bersiap.

Peristiwa ini pun langsung memicu berbagai spekulasi, mulai dari aktivitas tambang hingga pembukaan lahan perkebunan sawit di wilayah hulu.

Namun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Balangan menegaskan, penyebab utama banjir bandang tersebut bukanlah aktivitas manusia, melainkan faktor alam yang sangat ekstrem.

Promosi ssco

Kepala Pelaksana BPBD Balangan, H. Rahmi, menjelaskan bahwa berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Selatan, curah hujan pada malam kejadian berada jauh di atas batas normal.

“Bayangkan air hujan setengah bulan ditumpahkan sekaligus. Pegunungan dan tanah tidak punya cukup waktu untuk menyerapnya,” jelas Rahmi, Kamis (15/1/2026).

Menurutnya, volume hujan yang turun dalam satu malam setara dengan curah hujan selama sekitar setengah bulan. Dalam kondisi normal, air hujan akan meresap ke tanah lalu mengalir perlahan menuju sungai. Namun saat hujan turun sangat deras dalam waktu singkat, daya serap tanah tidak mampu mengimbangi.

“Air pun langsung meluncur dari kawasan pegunungan menuju sungai, menciptakan arus besar yang dikenal sebagai banjir bandang,” ujarnya.

Promosi ssco

Isu lain yang ikut mencuat di tengah masyarakat adalah dugaan adanya aktivitas pertambangan dan perkebunan sawit di wilayah hulu sungai sebagai pemicu bencana. Menanggapi hal itu, Rahmi menegaskan hingga saat ini belum ada bukti yang mengarah ke sana.

“Dari peta wilayah dan hasil pengecekan bersama Tim Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup, tidak ditemukan aktivitas tambang di hulu sungai yang terdampak,” katanya.

Bahkan, saat Menteri Lingkungan Hidup berkunjung ke Balangan, kementerian menurunkan tim khusus untuk menelusuri kemungkinan kerusakan hutan dan lingkungan. Tim tersebut melibatkan ahli lapangan serta menggunakan bantuan citra satelit.

“Hasilnya sampai sekarang belum ada temuan kerusakan yang mengarah ke dugaan tersebut,” tambah Rahmi.

Promosi ssco

Terkait isu penebangan hutan, BPBD juga mencatat satu fakta penting di lapangan. Saat banjir bandang terjadi, tidak ada material kayu besar yang terbawa arus.

“Kalau ada penebangan, biasanya kayu akan ikut terbawa dan menghantam rumah warga. Tapi berdasarkan kesaksian warga, yang datang hanya air dengan arus sangat kuat,” ungkapnya.

BPBD Balangan mengimbau masyarakat agar lebih memahami karakter alam wilayah pegunungan. Dalam kondisi cuaca ekstrem, banjir bandang bisa terjadi meski tanpa campur tangan aktivitas manusia.

“Wilayah pegunungan memang sangat rentan. Jika hujan turun dengan intensitas sangat tinggi dalam waktu singkat, banjir bandang bisa terjadi secara alami,” pungkas Rahmi.

Tags:

Banjir Sumatera


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *