KONSULTASI
Logo

Mandatori B50 Batal, Sentimen Saham Sawit Terkoreksi: AALI, BWPT, LSIP Tetap Punya Peluang

2 Februari 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
Mandatori B50 Batal, Sentimen Saham Sawit Terkoreksi: AALI, BWPT, LSIP Tetap Punya Peluang
HOT NEWS

sawitsetara.co - Pembatalan rencana penerapan mandatori biodiesel B50 pada 2026 menjadi pukulan sentimen bagi saham emiten minyak kelapa sawit mentah (CPO). Harapan pasar terhadap lonjakan serapan domestik pupus, membuat prospek harga CPO tak seagresif proyeksi awal.

Sejumlah emiten sawit besar seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT), dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) pun ikut terdampak. Pasalnya, tambahan permintaan CPO dari kebijakan campuran 50% sawit dalam solar kini dipastikan belum terealisasi dalam waktu dekat.

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai, absennya kebijakan B50 membuat ruang kenaikan harga CPO akibat pengetatan pasokan domestik menjadi lebih terbatas.

Dengan tetap berjalannya program B40, serapan domestik dinilai belum cukup besar untuk menarik pasokan ekspor secara signifikan.

“Tanpa B50, serapan domestik tetap di level B40. Artinya, pasokan ekspor tidak akan ditarik sebesar skenario B50, sehingga tekanan harga global dan persaingan ekspor tetap menjadi risiko,” ujar Abida.

Sawit Setara Default Ad Banner

Kondisi ini dinilai menekan sentimen fundamental saham-saham sawit, terutama dibandingkan periode ketika pasar masih mengantisipasi lonjakan permintaan domestik yang lebih agresif.

Tak hanya itu, investor juga perlu mencermati sejumlah sentimen negatif lain. Abida menyoroti kenaikan pungutan ekspor CPO menjadi 12,5% yang akan berlaku mulai Maret 2026. Kebijakan ini berpotensi menekan daya saing ekspor dan memaksa harga FOB tetap kompetitif.

Risiko kebijakan lingkungan dan tata kelola, termasuk penertiban lahan ilegal serta potensi sanksi, turut menjadi faktor pembebanan sektor. Volatilitas harga CPO global akibat persaingan dengan minyak nabati lain juga menambah tekanan.

Meski begitu, peluang perbaikan kinerja emiten CPO pada 2026 belum sepenuhnya tertutup. Abida memperkirakan produksi CPO Indonesia bisa mencapai 49,8 juta ton, ditopang konsumsi domestik yang relatif stabil dari program B40.

Sawit Setara Default Ad Banner

Permintaan global pun dinilai masih solid, terutama dari Asia, Afrika, dan Timur Tengah, sehingga berpotensi menopang harga sawit.

Pandangan senada datang dari Analis Samuel Sekuritas Indonesia Juan Harahap. Ia menilai harga CPO telah memasuki level keseimbangan baru yang lebih tinggi, seiring ketatnya pasokan global.

Tekanan pasokan dipicu oleh penurunan produktivitas akibat penuaan kebun dan lambatnya program peremajaan. Di Malaysia, kondisi ini diperparah oleh alih fungsi lahan perkebunan menjadi kawasan properti.

Sementara di Indonesia, pelaku industri mencatat minimnya penerbitan izin HGU baru dalam beberapa tahun terakhir. Dampaknya, biaya akuisisi lahan melonjak signifikan dari kisaran US$ 5.000–8.000 per hektare menjadi sekitar US$ 13.000–15.000 per hektare.

“Rata-rata harga CPO pada 2025 naik 1,6% YoY menjadi MYR 4.267 per ton, setelah melonjak 10,1% YoY pada 2024,” tulis Juan.

Sawit Setara Default Ad Banner

Dari sisi kinerja emiten, prospek laba 2026 masih terbilang positif. AALI mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba bersih lebih dari 30% YoY hingga kuartal III-2025. BWPT membukukan lonjakan laba bersih lebih dari 50% YoY, sementara LSIP mencatatkan pertumbuhan laba hingga 55% YoY pada periode yang sama.

Namun, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengingatkan, tanpa implementasi B50, potensi lonjakan laba emiten sawit menjadi lebih terbatas.

“Kenaikan laba yang sangat kuat atau rekor baru baru akan terbuka jika B50 benar-benar diterapkan,” ujarnya.

Meski demikian, Abida tetap merekomendasikan saham-saham sawit dengan fundamental kuat dan eksposur produksi besar. Ia merekomendasikan buy AALI dengan target harga Rp 8.000, LSIP di Rp 1.300, serta BWPT di Rp 180 per saham.

Sementara itu, Juan merekomendasikan buy BWPT dengan target harga Rp 450, dan analis Ciptadana Sekuritas Asia Yasmin Soulisa merekomendasikan buy LSIP dengan target Rp 1.620 per saham.

Tags:

saham sawit

Berita Sebelumnya
Disbun Berau Arahkan Petani Sawit Manfaatkan Dana BPDP Untuk Peremajaan

Disbun Berau Arahkan Petani Sawit Manfaatkan Dana BPDP Untuk Peremajaan

Meski tanpa dukungan subsidi daerah, Lita menyebut petani sebenarnya masih memiliki akses pembiayaan alternatif melalui Program Dana Peremajaan Rakyat yang dikelola oleh BPDP.

31 Januari 2026 | Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *