KONSULTASI
Logo

Prabowo Subianto Genjot B50 di 2026, RI Tancap Gas Menuju Kemandirian Energi Hijau

31 Maret 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
Prabowo Subianto Genjot B50 di 2026, RI Tancap Gas Menuju Kemandirian Energi Hijau
HOT NEWS

sawitsetara.co - Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto semakin agresif mendorong transisi energi berbasis sumber daya domestik. Dalam forum bisnis bergengsi Indonesia-Japan Business Forum di Tokyo, Jepang, Senin (30/3/2026), Prabowo mengumumkan rencana peningkatan campuran biodiesel berbasis kelapa sawit menjadi 50 persen (B50) pada tahun ini.

Langkah ini menandai lonjakan signifikan dari implementasi sebelumnya, yakni B40 yang telah berlaku sejak awal 2025. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi besar pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor.

“Tahun ini kita akan meningkatkan porsi biodiesel dari 40 persen menjadi 50 persen,” ujar Prabowo di hadapan investor dan pelaku usaha Jepang.

Peningkatan mandatori biodiesel ini menegaskan posisi strategis minyak sawit mentah (CPO) sebagai tulang punggung energi terbarukan Indonesia. Selain sebagai komoditas ekspor unggulan, sawit kini diarahkan menjadi solusi konkret dalam menjaga stabilitas pasokan energi nasional.

Kebijakan B50 juga diproyeksikan memberi efek berantai, mulai dari peningkatan serapan CPO dalam negeri, stabilisasi harga, hingga mendorong kesejahteraan petani sawit.

Sawit Setara Default Ad Banner

Tak hanya biodiesel, pemerintah juga mulai mempercepat pengembangan bioetanol sebagai campuran bahan bakar bensin. Prabowo menyebut, Indonesia akan mengoptimalkan komoditas lokal seperti singkong, tebu, dan jagung sebagai bahan baku utama.

Langkah ini merupakan bagian dari diversifikasi energi yang lebih luas, guna memastikan ketersediaan energi berkelanjutan di tengah dinamika global.

Prabowo menekankan bahwa kebijakan ini bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Ketegangan geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah, dinilai berpotensi mengganggu rantai pasok energi dunia.

“Situasi geopolitik memberikan ketidakpastian strategis bagi keamanan energi kami. Karena itu, kami harus memaksimalkan sumber daya sendiri,” tegasnya.

Selain bahan bakar nabati, pemerintah juga membidik percepatan energi bersih melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Indonesia menargetkan kapasitas energi surya mencapai 100 Giga Watt (GW) dalam tiga tahun ke depan—angka yang mencerminkan ambisi besar menuju ekonomi rendah karbon.

Pengumuman ini menjadi sinyal tegas kepada investor global bahwa Indonesia serius membangun ekosistem energi hijau berbasis potensi lokal. Dengan kombinasi biodiesel, bioetanol, dan energi surya, pemerintah berharap mampu menciptakan ketahanan energi yang lebih kokoh sekaligus membuka peluang investasi baru di sektor energi terbarukan.

Dengan dorongan kebijakan ini, Indonesia tak hanya memperkuat posisi sebagai produsen sawit terbesar dunia, tetapi juga mulai menegaskan diri sebagai pemain kunci dalam transisi energi global.


Berita Sebelumnya
APKASINDO Jadi Garda Depan Cegah Konflik Sawit, Dorong Tata Kelola Lebih Adil di Melawi

APKASINDO Jadi Garda Depan Cegah Konflik Sawit, Dorong Tata Kelola Lebih Adil di Melawi

Ketua DPD APKASINDO Kabupaten Melawi, Sopian Hadi, dalam sambutannya menegaskan bahwa APKASINDO bukan sekadar organisasi petani, melainkan wadah perjuangan yang memiliki tanggung jawab dalam memberikan perlindungan, pendampingan, serta edukasi kepada petani sawit mandiri.

30 Maret 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *