
sawitsetara.co - REDANG SEKO – Pemilihan bibit kelapa sawit menjadi faktor paling menentukan dalam keberhasilan perkebunan sawit. Kesalahan memilih bibit dapat berdampak panjang terhadap produktivitas kebun bahkan hingga 20–25 tahun masa tanam.
Pengelola Pembibitan APKASINDO Redang Seko, Suster M. Loly Vianty Manalu FCJM, mengatakan banyak petani masih mengutamakan bibit harga murah tanpa memperhatikan asal-usul benih.

Menurutnya, bibit yang tidak jelas sumbernya sering menghasilkan buah dengan kualitas minyak rendah dan produksi tidak maksimal.
“Kalau bibitnya tidak jelas asal-usulnya memang bisa berbuah, tetapi jumlah buahnya sedikit dan kualitas minyaknya tidak baik,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa bibit yang tidak bersertifikat sering menghasilkan buah jenis dura, yang hanya mengandalkan tonase tetapi memiliki rendemen minyak rendah. Kondisi tersebut membuat harga jual tandan buah segar (TBS) menjadi lebih rendah di pabrik.

Sebaliknya, bibit unggul yang berasal dari sumber benih resmi seperti di Pembibitan APKASINDO memiliki pertumbuhan lebih seragam, mudah dirawat, serta menghasilkan minyak dengan rendemen tinggi.
Menurut Suster Loly, kombinasi persilangan antara dura dan pisifera akan menghasilkan varietas tenera, yang dikenal sebagai jenis sawit paling ideal untuk perkebunan komersial.
“Bibit unggul memang lebih mahal di awal, tetapi ke depannya lebih mudah dikelola dan hasilnya jauh lebih menguntungkan,” katanya.
Ia mengimbau petani swadaya agar berani berinvestasi pada bibit bersertifikat seperti dari Pembibitan APKASINDO agar produktivitas kebun tetap optimal selama masa tanam yang panjang.

Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap dan mendalam terkait produk Pembibitan APKASINDO Redang Seko simak video podcast Sawit TALK dengan klik tautan berikut:
SAWIT TALK- SALAH PILIH BIBIT SAWIT, DAMPAKNYA 25 TAHUN! JANGAN SAMPAI TERJADI
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *